nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ribuan Warga India Rayakan Penembakan Tersangka Kasus Perkosaan Dokter Hewan oleh Polisi

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 06 Desember 2019 20:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 06 18 2138965 ribuan-warga-india-rayakan-penembakan-tersangka-kasus-perkosaan-dokter-hewan-oleh-polisi-TTsex4lBdL.jpg Beberapa perempuan India menyalakan kembang api untuk merayakan penembakan para tersangka kasus perkosaan oleh polisi. (Foto: BBC)

HYDERABAD - Pembunuhan empat pria yang dituduh memperkosa dan membunuh seorang wanita muda pekan lalu di Hyderabad sebagian besar disambut dengan sukacita di India. Hanya beberapa jam setelah penembakan yang dilakukan polisi itu, sekira 2.000 orang berkumpul di lokasi untuk merayakan insiden tersebut.

Mereka meneriakkan "zindabad police" ("hidup polisi"), membagikan permen dan menaburkan bunga di tempat mayat korban perkosaan, seorang dokter hewan berusia 27 tahun, ditemukan pekan lalu dan lokasi penembakan itu terjadi pada Jumat pagi.

BACA JUGA: Dokter Hewan di India Diperkosa lalu Dibakar

Di lingkungannya kediaman korban juga, sejumlah besar orang berkumpul, menyalakan petasan perayaan dan membagikan permen. Perayaan dan dukungan terhadap polisi juga mengalir melalui daring dan media sosial.

Di Twitter, ada lebih dari 300.000 tweet dengan berbagai tagar tentang penembakan dan kejahatan, dengan sebagian besar suara mendukung aksi polisi.

Menurut laporan BBC, ada alasan di balik dukungan tersebut: sistem peradilan India yang berbelit-belit dan lamban seringkali berarti dibutuhkan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, bagi korban atau keluarganya untuk mendapat keadilan.

Lokasi di mana jasad dokter hewan korban perkosaan di India ditemukan pekan lalu. (BBC)

Ada puluhan juta kasus yang tertunda di pengadilan, termasuk hampir 150.000 kasus perkosaan, dan ini telah mengikis kepercayaan publik terhadap sistem peradilan pidana. Contoh terbesar dari ini situasi ini dalam beberapa tahun terakhir adalah penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita berusia 23 tahun di sebuah bus di Delhi pada Desember 2012.

Kejahatan brutal itu menjadi berita utama hampir di seluruh dunia, menyebabkan demonstrasi selama berhari-hari di Delhi dan bagian lain India serta memaksa pemerintah untuk memberlakukan undang-undang baru yang lebih keras, termasuk penerapan hukuman mati dalam kasus yang jarang terjadi.

Namun terlepas dari semua perhatian itu, proses pengadilan untuk keluarga korban tetap bergerak sangat perlahan.

Tujuh tahun kemudian, ibu korban, Asha Devi menuduh bahwa para lelaki pelaku perkosaan putrinya, yang telah divonis mati, telah menggunakan setiap celah hukum untuk menunda eksekusi mereka.

Tidak mengherankan bahwa kemudian bahwa Devi menjadi salah satu orang pertama pada Jumat yang memuji polisi Cyberabad.

Di sisi lain, tindakan polisi itu juga disorot oleh beberapa pihak yang menggambarkannya sebagai eksekusi tersangka tanpa pengadilan.

"Polisi yang gatal menembak dengan pengabaian terhadap hukum bukanlah jawaban yang kami cari," kata Prof Kalpana Kannabiran, dari Dewan Pembangunan Sosial di Hyderabad, mengatakan kepada BBC Telugu.

"Ujung keadilan tidak dilayani oleh pembunuhan sewenang-wenang dan haus darah retributif. Jalannya keadilan tidak ditentukan oleh kesedihan dan kepedihan keluarga para korban.

BACA JUGA: Laporkan Kasus Perkosaan, Perempuan di India Dibakar dalam Perjalanan ke Persidangan

"Keadilan terletak pada mendukung mereka pada saat kesedihan dan rasa sakit mereka dan menuntut proses hukum yang membawa tersangka dan terdakwa ke pengadilan melalui investigasi kriminal yang kuat, ketat dan kompeten."

Prakash Singh, seorang mantan perwira polisi, mengatakan kepada BBC bahwa pembunuhan itu "sepenuhnya dapat dihindari" dan beberapa ahli hukum menggambarkan tindakan mereka sebagai "tidak konstitusional" dan bertanya apakah keadilan benar-benar telah dilakukan.

Beberapa orang bertanya-tanya apakah polisi telah menangkap orang yang tepat dan apakah mereka tidak hanya menangkap beberapa sopir truk yang malang untuk menenangkan kemarahan publik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini