nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Alasan Keluarga Pelajar yang Bunuh Pelaku Begal Tak Lakukan Banding

Avirista Midaada, Jurnalis · Jum'at 24 Januari 2020 03:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 23 519 2157458 ini-alasan-keluarga-pelajar-yang-bunuh-pelaku-begal-tak-lakukan-banding-zhgD07xXAw.jpg Ayahanda ZA, Sudarto usai konpers (foto: Okezone.com/Avirista)

MALANG - Masa depan anak dan pendidikan menjadi alasan pihak keluarga ZA, pelajar pembunuh begal asal Malang menerima keputusan hukuman pembinaan selama setahun di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA).

Sudarto, ayah ZA menilai apa yang diputuskan hakim terhadap anaknya, merupakan keputusan terbaik. Yang paling penting, bagi pihak keluarga ZA tetap masih bisa bersekolah dan beraktivitas normal.

"Intinya biar kasus ini selesai, mudah-mudahan bisa beraktivitas lagi ke sekolah. Kami ingin tetap melanjutkan pendidikan," ungkap Sudarto, saat menggelar konferensi pers didampingi tim kuasa hukum, Kamis (23/1/2020) malam.

 Baca juga: Seperti Apa Hukuman Pembinaan 1 Tahun pada Pelajar Pembunuh Begal?

Sudarto berharap dengan dibina di LKSA yang juga Ponpes Darul Aitam, Kecamatan Wajak ini, ZA bisa memperdalam ilmu agama, memulihkan mental, dan belajar mengenai segala hal positif.

"Saya sebagai kepala keluarga, ayah ZA berpesan kepada dia (ZA), carilah ilmu apapun dan tuntutlah pendidikan. Saya ikhlas legowo menerima apa yang jadi putusan. Ini putusan yang paling baik," tambahnya.

 Baca juga: Bunuh Begal, Pelajar di Malang Dihukum Pembinaan Selama 1 Tahun

Di sisi lain tim kuasa hukum ZA, menghormati keputusan yang disampaikan pihak keluarga, mengingat kuasa penuh ZA berada di orang tuanya.

"Kami hormati keputusan keluarga. Terpenting tidak ada dakwaan pasal 340 yang kemarin viral. Alhamdulillah berkat dukungan masyarakat itu tidak terjadi (hukuman seumur hidup) pada ZA, ia harus menjalani pembinaan di Ponpes di Wajak," terang Bhakti Riza Hidayat, koordinator kuasa hukum ZA.

Sebagai informasi pelajar pembunuh begal ZA divonis bersalah oleh majelis hakim yang dipimpin oleh Nuny Defiary. ZA dijerat dengan pasal 351 ayat 3 mengenai penganiyaan yang menyebabkan kematian dan harus menjalani hukuman pembinaan di LKSA selama satu tahun.

Kasus hukum yang menimpa ZA ini berawal pada pada Minggu malam 9 September 2019 keluar bersama pacarnya di kebun tebu Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, dihadang oleh sekelompok kawanan pembegal.

Dua orang mencoba merampas sepeda motornya dan handphone ZA. Tak cukup disana saja, pelaku juga berusaha memperkosa pacar ZA yang berinisial V.

Namun korban ZA memberikan perlawanan dan menusukkan pisau yang diambilnya dari dalam jok sepeda motor miliknya hingga menewaskan seorang begal bernama Misnan. Alhasil dua pelaku begal lainnya pun melarikan diri melihat rekannya.

Sehari setelahnya polisi mengamankan ZA dan menetapkan tersangka atas dugaan penganiyaan hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Namun lantaran masih berstatus pelajar ZA tak di penjara.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini