Share

Sepakat Berdamai, Bagaimana Awal Perang AS-Taliban di Afghanistan?

Rachmat Fahzry, Okezone · Minggu 01 Maret 2020 05:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 01 18 2176301 sepakat-berdamai-bagaimana-awal-perang-as-taliban-di-afghanistan-BSkS9Sgg47.jpg Perjanjian damai AS-Taliban. (Foto: Kemenlu)

DOHA - Perjanjian perdamaian antara Amerika Serikat dan Taliban akhirnya benar-benar terjadi, setelah tarik mundur selama 18 bulan.

Penandatanganan kesepakatan damai itu dilakukan di Doha, Qatar pada Sabtu 29 Februari 2020. Artinya, perang selama 18 tahun antara pasukan AS dan Taliban di Afghanistan berakhir.

Indonesia bersama lima negara, yakni Pakistan, Qatar, Turki India, Uzbekistan dan Tajikistan, yang menjadi fasilitator perdamaian turut menghadiri penandatanganan.

Mohammed Naeem, perwakilan Taliban di Doha, mengutip Al Jazeera menyebut kesepakatan damai tersebut sebagai akhir perang di Afghanistan.

Sementara Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, yang diutus Presiden Donald Trump menyaksikan penandatanganan, meminta Taliban untuk menghormati komitmennya.

(Foto: Kemenlu RI)

"Saya tahu akan ada godaan untuk menyatakan kemenangan, tetapi kemenangan bagi rakyat Afghanistan hanya akan tercapai ketika mereka bisa hidup damai dan makmur," katanya.

Awal perang

Semuanya berawal pada 11 September 2001, ketika terjadi serangan di New York, Washington dan Pennsylvania, yang menewaskan hampir 3.000 orang. Osama Bin Laden dan kelompoknya, Al Qaeda, dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Taliban, kelompok yang ketika itu berkuasa di Afghanistan, melindungi Bin Laden dan menolak menyerahkannya ke Amerika Serikat. Sebulan setelah 11 September, Amerika resmi menggempur Afghanistan.

"Kami sebenarnya tak diminta menjalankan misi ini, namun kami akan merampungkannya," kata George W Bush, presiden Amerika saat mengumumkan serangan udara pertama terhadap Afghanistan pada 7 Oktober 2001 menyitir BBC.

Aksi militer AS, kata Presiden Bush, ditujukan untuk "menghancurkan pangkalan operasi teroris di Afghanistan dan untuk melumpuhkan kemampuan militer Taliban".

(Foto: Kemenlu RI)

Sasaran-sasaran serangan antara lain adalah pangkalan militer Taliban dan kamp pelatihan kelompok al Qaeda.

Sejumlah negara bergabung dengan Amerika dan dengan cepat Taliban digulingkan dari kekuasaan.

Meski tak lagi berkuasa, Taliban tak mudah ditumpas. Pengaruh kelompok ini tidak hilang dan mereka bertahan.

Sejak itu, koalisi pimpinan Amerika kesulitan menjadikan Afghanistan sebagai negara yang stabil dan Taliban tetap menjadi gangguan keamanan dan stabilitas.

Korban perang

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Sabtu (22/2) melaporkan konflik di Afghanistan menewaskan lebih dari 3.400 warga sipil dan melukai hampir 7.000 lainnya pada 2019.

Misi Bantuan PBB di Afghanistan (United Nations Assistance Mission in Afghanistan/UNAMA) mengatakan Taliban, ISIS dan kelompok militan lainnya menyebabkan 49 persen dari kematian itu, sedangkan pasukan pro-pemerintah, termasuk koalisi yang dipimpin AS bertanggung jawab atas 43 persen kematian. Sisanya terperangkap dalam baku tembak dan insiden terkait konflik lainnya.

UNAMA mencatat dalam laporannya jumlah warga sipil yang tewas atau cedera dalam berbagai insiden terkait konflik di Afghanistan dalam 10 tahun terakhir saja melampaui 100.000 korban jiwa baik luka atau tewas.

"Sangat penting bagi semua pihak untuk memanfaatkan momen ini untuk menghentikan pertempuran. Perdamaian sudah lama tertunda," tutur Kepala UNAMA Tadamichi Yamamoto, sebelum kesepakatan damai AS-Taliban terjadi, melansir VOA.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini