Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Larangan Mudik Buat Pedagang Kecil di Pantura Was-Was

Fathnur Rohman , Jurnalis-Rabu, 22 April 2020 |16:42 WIB
Larangan Mudik Buat Pedagang Kecil di Pantura Was-Was
Lili, pedagang oleh-oleh khawatir dengan larangan mudik (Foto: Okezone/Fathnur)
A
A
A

CIREBON - Presiden Joko Widodo akhirnya resmi melarang masyarakat mudik di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Keputusan tersebut diambil sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Pelarangan mudik tersebut membuat sebagian masyarakat kurang setuju. Salah satunya adalah Lili (68), seorang pemilik toko oleh-oleh khas Cirebon, Jawa Barat.

Kepada Okezone, Lili mengaku khawatir kebijakan pelarangan mudik ini akan berpengaruh terhadap penjualan di toko oleh-olehnya. Sebab, menurutnya, sejak adanya pandemi Covid-19 saja penjualan oleh-oleh khas Cirebon di tokonya mengalami penurunan.

Toko oleh-oleh milik Lili berada di samping jalur Pantura Cirebon. Karena strategis, setiap musim mudik lebaran tokonya selalu ramai didatangi pembeli yang merupakan pemudik dari luar kota. Bahkan, Lili bisa mendapat keuntungan sebesar Rp25 juta pada musim mudik lebaran.

"Berdampak sekali (pelarangan mudik). Sekarang aja penghasilan menurun drastis. Biasanya rame kalau mau lebaran itu. Seminggu mau lebaran sama seminggu sesudah lebaran. Habis lebaran biasanya ada sisa sampai Rp25 juta. Lumayan bisa buat beli pakaian," kata Lili saat berbincang dengan Okezone, Rabu (22/4/2020).

Lebih dari 20 tahun Lili sudah menjual oleh-oleh khas Cirebon. Lili mengungkapkan, di hari-hari biasa ia bisa mendapat keuntungan sebesar Rp1 juta. Namun karena pandemi virus corona, pendapatannya menurun sampai Rp200 ribu.

Ia melanjutkan, oleh-oleh yang biasanya diburu oleh para pemudik adalah kerupuk kulit khas Cirebon. Lili mengatakan, kerupuk kulit ini ia produksi sendiri. Sedangkan, untuk oleh-oleh lainnya ia biasa berbelanja di pasar kue Plered, Cirebon.

"Kalau sekarang menurun drastis. Kadang dapet 200 ribu. Dapet 1 juta aja jarang-jarang. Sebelum corona tuh bisa dapet lebih 1 juta. Kalo sekarang susah. Cuman 200 ribu sama 500 ribu," ujar Lili.

Lili menceritakan, karena sepi pembeli dirinya kini membatasi barang-barang yang mesti dibelanjakan. Ia hanya berbelanja apabila stok oleh-oleh khas Cirebon di tokonya berkurang.

Dirinya berharap agar pandemi Covid-19 ini secepatnya bisa selesai. Sehingga ia dapat berjualan secara normal kembali. Oleh-oleh di toko Lili sendiri terdiri dari makanan dan kue-kue khas Cirebon yang beraneka ragam. Setiap musim mudik tokonya pasti akan sesak oleh pemudik yang membeli oleh-oleh di tokonya.

"Kalau sekarang biasanya belanja banyak belanja oleh-oleh sekarang kita jualan biasa-biasa aja. Pasrah aja. Kalau pembelinya rame saya belanjanya banyak. Belanja cuman seminggu sekali. Kalau belanja di pasar kue plered. Belanja mipil aja, kalau ada uangnya sejuta ya belanja segitu. Jangan sampai ada yang kosong," tambahnya.

Selain Lili, kekhawatiran akan dampak yang ditimbulkan dari kebijakan pelarangan mudik juga dirasakan oleh penjual batik di Pasar Batik Trusmi, Cirebon, Jawa Barat.

Pasar Batik Trusmi Sepi (Fathnur)

Kepala Pasar Batik Trusmi, Subandi menyampaikan, sejak adanya pandemi Corona jumlah pengunjung yang datang ke Pasar Batik Trusmi mengalami penurunan. Bahkan, penurunan tersebut mencapai 90 persen. Ia memperkirakan penurunan pengunjung ini bisa lebih parah saat mudik dilarang pemerintah.

Dijelaskannya, hampir 80 persen pembeli batik di Pasar Batik Trusmi berasal dari luar kota. Ketika mudik dilarang, secara otomatis jumlah pengunjung pasti akan berkurang.

"Sangat berpengaruh sekali. Jangankan mudik dilarang, sekarang aja gak bisa keluar dari kotanya untuk masuk ke sini. Sedangkan di pasar batik mengandalkan pembeli dari luar kota atau pendatang. 80 persen pembeli dari luar kota," ungkap Subandi saat ditemui Okezone.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement