SURABAYA - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyebutkan, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit Surabaya sebanyak 50 persen, adalah warga luar Surabaya. Kondisi ini seperti yang terdeteksi di RS Soewandie dan RS BDH pasein Covid-19 dari luar Surabaya datang langsung ke UGD.
Jika pasien Covid-19 Orang Tanpa Gejala (OTG) dan pergi kemana-mana seperti ke warung makan. Tentu hal tersebut membuat berat bagi warga Surabaya. Sebab dikhawatirkan tertular pada warga lain yang ada di sekitarnya.
“Kalau dia OTG lalu kemana-mana di Surabaya, misalnya ke warung makan dan tempat lain, tentu ini yang membuat berat kepada kami di Surabaya," terang Tri Rismaharini.
Baca juga: Gugus Tugas: Jika PSBB Berjalan Baik, Covid-19 Diprediksi Menurun Juni
Belum lagi, sambung Risma, jika pasien Covid-19 itu membawa keluarganya. Sedangkan di salah satu keluarganya sudah ada yang positif.
"Sehingga ini berat ke kami. Itu yang kami sampaikan ke PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia) dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia)," ungkap Risma.
Baca juga: Pakar Hukum: Sudah Waktunya Tindakan Represif bagi Pelanggar PSBB

Risma berharap semuanya harus mengikuti protokol dan aturanya, supaya tidak semua orang harus dirujuk ke Surabaya dan diterima oleh rumah sakit di Surabaya.
“Kalau sedang-sedang saja dan masih bisa diatasi di daerah, kenapa harus dirujuk ke rumah sakit di Surabaya? itu yang berat bagi kami dan sudah kami sampaikan ke PERSI dan IDI. Semoga segera ada solusi,” tukas Risma.