Bertahan Hidup, Banyak Warga Lombok Beralih Profesi Selama Pandemi Covid-19

Arie Dwi Satrio, Okezone · Minggu 19 Juli 2020 01:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 19 340 2248609 bertahan-hidup-banyak-warga-lombok-beralih-profesi-selama-pandemi-covid-19-KVy1A7iF02.jpg Banyak warga Lombok beralih profesi selama pandemi Covid-19 (Foto : Istimewa)

JAKARTA - Virus corona (Covid-19) yang mewabah di seluruh dunia, termasuk Indonesia, berdampak besar terhadap sektor ekonomi, termasuk pariwisata. Salah satu daerah yang sebagian besar warganya hidup dari kunjungan para turis yakni Desa Taman Indah, Lombok Tengah, turut gigit jari.

Perlahan tapi pasti, warga desa ini mulai unjuk gigi. Mereka mulai beralih profesi dengan bercocok tanam untuk bertahan hidup. Polres Lombok Tengah memfasilitasi para warga Desa Taman Indah untuk mendapatkan pelatihan terkait cocok tanam yang saat ini sedang berkembang.

"Dengan pandemi ini, banyak sektor yang tidak berjalan lancar usahanya. Kita perlu mengalihkan dengan memanfaatkan yang ada di masyarakat. Pelatihan, pelatihan," kata Kapolres Lombok Tengah, AKBP Esty Setyo Nugroho, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu 18 Juli 2020.

Dengan dukungan dari TNI-Polri dan pemerintah setempat, Desa Taman Indah mulai bangkit. Warga banting setir dalam hal mata pencaharian dengan membentuk kelompok pengrajin kurungan ayam dan kelompok budidaya tanaman jamur tiram serta hidroponik.

"Budidaya jamur, produksi anyaman bambu dan budidaya hidroponik merupakan program unggulan dari Desa Taman Indah. Begitulah cara warga bertahan hidup di tengah pariwisata yang saat ini redup," sebut Esty.

Warga desa yang terletak di Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mampu meraup omset puluhan juta dengan usaha barunya. Esty menyebut bahkan warga sudah memiliki merk untuk produk tanaman hidroponiknya.

"Hidroponik sudah ada labeling Badil Hidroponik. Ini pelakunya 7 warga. Mereka sebulan bisa memproduksi 300 kilogram tanaman hidroponik dengan harga satuannya 23 ribu rupiah. Omzet per bulan Rp6,9 juta per petaninya," ujar Esty.

Baca Juga : Illegal Fishing, 2 Kapal Vietnam Ditangkap di Laut Natuna

Baca Juga : Polisi Temukan Alat Bukti Pebunuhan di Kasus Bocah Tewas Dalam Toren

Esty menjelaskan lebih lanjut, kelompok warga yang membudidayakan jamur tiram berjumlah 20 orang dengan total produksi per bulan 500 kg. Mereka menjual jamur tiram seharga Rp 20 ribu per kg dan omzet yang didapat per bulannya Rp 10 juta untuk masing-masing petani.

"Begitu juga di kelompok pengrajim kurungan ayam. Mereka lebih banyak, ada 25 orang. Sebulannya mampu membuat 500 buah kurungan ayam yang kemudian mereka jual dengan harga Rp 65 ribu satu kurungan. Omzet mereka perbulan kalau dikalikan saja hampir 49 juta rupiah," tutur Esty.

Esty mengatakan semangat warga Desa Taman Indah untuk lebih produktif di tengah pandemi juga dikarenakan adanya Lomba Kampung SEHAT NTB yang diinisiasi Kapolda NTB Irjen Mohammad Iqbal. Warga berharap dapat memenangkan lomba dan meraih hadiah yang nantinya akan dipergunakan untuk memperbesar usaha mereka.

"Mereka makin semangat karena sedang ada lomba juga, lomba Kampung Sehat Nurut Tatanan Baru. Tentunya warga ini punya harapan nanti hadiahnya bisa jadi modal mereka untuk mengembangkan usahanya yang saat ini masih skala home industry," tutur Esty.

Ia menuturkan usaha kelompok warga ini juga dipantau oleh TNI-Polri dan pemerintah setempat. Sudah ada pembahasan tentang bantuan dari Dinas Perdagangan untuk memasarkan produk warga secara daring.

"Kemarin saat kegiatan, kemarin ada safari dengan Bupati, Dandim. Kita saat ke Desa Taman Indah itu kita bersama sama Pak Bupati untuk survei bagaimana (lomba) Kampung SEHAT ini, pelaksanannya bagaimana. Jadi kemarin ada juga dari Kepala Dinas Perdagangan dan Koperasi membantu melakukan pemasaran. Salah satunya juga pembuatan video serta website untuk mendorong hasil produksinya untuk dipasarkan online," papar Esty.

Jika sektor pariwisata kembali menggeliat, maka produksi warga desa akan diberi sarana untuk dipamerkan di spot-spot wisata yang ada di Lombok Tengah. Esty menuturkan untuk saat ini warga sebenarnya sudah memasarkan produknya lewat media sosial, supermarket dan masyarakat umum.

"Upaya kita memasarkan juga melalui sarana tempat-tempat wisata yang ada di Lombok Tengah. Jadi intinya adalah di mana ada tempat pariwisata dengan keindahan alamnya dan ada wilayah yang kita dorong UMKM-nya sebagai produsen souvenir. Jadi itu harus saling membantu antara UMKM yang ada di Lombok Tengah dan pelaku usaha pariwisata," ungkap Esty.

Esty menerangkan pemda telah menyatakan siap membantu produk-produk warga Desa Taman Indah untuk dititipkan di pasar. "Ini untuk hidroponik karena ini nggak bisa tahan lama, maka pemasarannya lebih kita dorong ke pasar," imbuh Esty.

Tak hanya sekadar tiga produk itu, Esty dan Forkopimda Lombok Tengah berencana mendorong warga untuk memproduksi kerajinan khas Pulau Lombok dan Lombok. Semisal, sambung Esty, keris khas Lombok.

"Dengan adanya tenaga kerja yang dipulangkan, TKI, kebetulan warga Lombok Tengah ini juga sebagian besar tenaga kerja luar negeri yang harus dipulangkan karena pandemi. Sehingga dari potensi di wilayah masing-masing kita coba kembangkan. Ada pemuda yang memiliki kemampuan membuat keris asli Lombok itu kita juga fasilitasi untuk kembangkan UMKM usahanya," kata Esty.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini