Dalam rapat tersebut, kata Melki, BPOM masih bersikeras bahwa Vaksin Nusantara belum bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya karena ada beberapa faktor yang belum dilakukan. Misal uji praklinik dan peneliti atau orang asing yang ikut serta dalam pembuatan vaksin tersebut.
"Bahwa prakliniknya misalnya belum dilakukan dijawab oleh peneliti itu sudah dibuat di Amerika Serikat datanya ada sudah di berikan Kemudian ada orang asing yang mengikuti proses ini dan seterusnya, yang melakukan ini semua cuman orang asing ornag Indonesianya tidka terlibat dengan baik," kata Melki sambil meniru ucapan pihak BPOM.
"Ini kan menghina kita semua sebagai bangsa, memang peneliti kita ini orang-orang bego apa dibilang kayak gitu," imbuhnya.
Padahal menurut Melki, penelitian Vaksin Nusantara tersebut memang melibatkan negara lain. Dan seharusnya hal tersebut bisa dimengerti karena lumrah dalam dunia penelitian.
"Ini hal yang mudah dimengerti, kita bisa dipahami dan bisa kita laksanakan bahwa memang ini hasil kerja sama dua negara itu biasa dalam penelitian.
Kita ini pakai mutlak-mutlak punya asing semua di Sinovac dan Astrazeneca kita gak pernah protes, bagus kita pakai," pungkasnya.
(Sazili Mustofa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.