Masyarakat Adat Amazon 'Tidak Sebabkan Gangguan Atau Hilangnya Spesies' Selama Ribuan Tahun Hidup di Hutan

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 14 Juni 2021 07:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 14 18 2424635 masyarakat-adat-amazon-tidak-sebabkan-gangguan-atau-hilangnya-spesies-selama-ribuan-tahun-hidup-di-hutan-8tWjpTxkg5.jpg Suku Amazon (Foto: Reuters)

PERU - Sebuah studi yang menggali sejarah hutan Amazon mendeteksi bahwa masyarakat adat yang tinggal di sana selama ribuan tahun "tidak menyebabkan gangguan atau hilangnya spesies".

Para ilmuwan yang bekerja di Peru mempelajari lapisan tanah yang menunjukkan bukti fosil mikroskopis dari dampak manusia.

Mereka menemukan bahwa hutan tidak "dibuka, ditanami, atau diubah secara signifikan pada masa prasejarah".

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal PNAS.

Dr Dolores Piperno, dari Smithsonian Tropical Research Institute di Balboa, Panama, yang memimpin penelitian tersebut, mengatakan bahwa bukti tersebut dapat membantu konservasi modern - mengungkapkan bagaimana orang dapat hidup di Amazon sambil melestarikan keanekaragaman hayatinya yang sangat kaya.

Penemuan Dr Piperno juga memberi informasi bagi perdebatan yang sedang berlangsung tentang seberapa luas dan beragam lanskap Amazon yang dibentuk oleh masyarakat adat.

(Baca juga: Covid-19 Membuat Laki-laki Inggris Lupakan Cita-cita Jadi Pilot, Terpaksa Jadi Pegawai Supermarket)

Beberapa penelitian telah mengatakan bahwa lanskap itu secara aktif, intensif dibentuk oleh masyarakat adat sebelum kedatangan orang Eropa di Amerika Selatan.

Studi terbaru bahkan menunjukkan bahwa spesies pohon yang sekarang mendominasi hutan ditanam oleh manusia prasejarah.

Dr Piperno mengatakan kepada BBC News, temuan baru ini memberikan bukti bahwa penggunaan hutan hujan oleh penduduk asli "berkelanjutan, tidak menyebabkan hilangnya atau gangguan spesies yang terdeteksi, selama ribuan tahun".

(Baca juga: Dugaan Penipuan Ponzi di AS, 500 Diaspora Indonesia Jadi Korban)

Untuk menemukan bukti itu, dia dan rekan-rekannya melakukan semacam arkeologi botani - menggali dan menentukan usia lapisan tanah untuk membangun gambaran sejarah hutan hujan. Mereka memeriksa tanah di tiga lokasi di bagian terpencil timur laut Peru.

Ketiganya terletak setidaknya satu kilometer dari aliran sungai dan dataran banjir, yang dikenal sebagai "zona interfluvial".

Hutan-hutan ini membentuk lebih dari 90% luas daratan Amazon, jadi mempelajarinya adalah kunci untuk memahami pengaruh masyarakat adat terhadap lanskap secara keseluruhan.

Mereka mencari setiap lapisan sedimen fosil tanaman mikroskopis yang disebut phytolith - catatan kecil tentang apa yang tumbuh di hutan selama ribuan tahun.

"Kami menemukan sangat sedikit tanda-tanda modifikasi manusia selama 5.000 tahun," kata Dr Piperno.

"Jadi saya pikir kita memiliki banyak bukti sekarang, bahwa hutan di luar sungai itu tidak banyak dihuni dan tidak banyak diubah,” lanjutnya.

Para ilmuwan mengatakan temuan mereka juga menunjukkan nilai pengetahuan asli yang dapat membantu melestarikan keanekaragaman hayati di Amazon, misalnya, terkait dengan pemilihan spesies terbaik untuk penanaman kembali dan restorasi.

"Masyarakat adat memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang hutan dan lingkungan mereka dan itu perlu dimasukkan dalam rencana konservasi.” Ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini