Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement
898

Pertempuran Prajurit Majapahit versus Mongol di Sungai Kalimas?

Doddy Handoko , Jurnalis-Kamis, 01 Juli 2021 |06:54 WIB
Pertempuran Prajurit Majapahit versus Mongol di Sungai Kalimas?
Prasasti Trowulan.(Foto:Istimewa)
A
A
A

DALAM prasasti Trowulan I berangka 1358 M tercatat bahwa Surabaya sudah ada sejak jaman dulu. Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa di tepi sungai Berantas

Surabaya (Churabhaya) juga tercantum di Negara Kretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca tentang perjalanan pesiar Hayam Wuruk pada tahun 1385 M dalam pupuh XVII (bait ke 5, baris terakhir).

Pertempuran antara Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit melawam pasukan tar-tar dari dinasti Mongol, diduga terjadi di sepanjang aliran sungai sampai muara Sungai Kalimas yang sekarang Tanjung Perak atau Ujunggaluh.

Menurut kitab Pararaton, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Pertempuran berakhir di Pelabuhan Ujunggaluh dengan kemenangan pasukan Raden Wijaya.

Baca Juga: Kisah Desa Emas dan Piring Emas di Kolam Segaran Majapahit

Dikisahkan di Negara Kretagama dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Mongol, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit. Hal ini untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Kubilai Khan, sebagai wujud penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga.

Raden Wijaya dan pasukannya menghabisi kedua perwira dan para pengawal dari Mongol yang menyertainya. Kemudian, ia memimpin pasukannya menyerbu pasukan Mongol yang masih tersisa di Daha yang sedang berpesta kemenangan.

Pasukan Mongol yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan menyerang tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan.

Tiga ribu pasukan Kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa dengan meninggalkan banyak korban.

Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya, harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara (Ujunggaluh). Mereka berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.

Nama Kalimas merupakan pemberian dari Belanda, karena di Belanda juga ada sungai yang mirip dengan sungai pecahan Brantas itu, dan dijadikan sebagi sumber kehidupan oleh masyarakat. Semenjak kekuasaan VOC, Kalimas menjadi sarana penghubung transportasi air.

Tiap hari perahu berukuran besar kecil hilir mudik mengangkut barang komoditi seperti ikan dan sejenisnya menuju ke pelabuhan Tanjung Perak. Mulai dari Kembang Jepun daerah pecinan di Surabaya hingga ke daerah Kayun.

Bahkan didaerah itu, sempat dibangun jembatan gantung buatan Belanda yang dapat diangkat dan diturunkan kembali saat ada kapal komoditi berukuran besar melintas. Namun jembatan tersebut sekarang sudah rusak termakan usia.

Bahkan pada abad 17-18, karena tingginya tingkat perekonomian di Surabaya dibangunlah pelabuhan di dermaga Perak Ujung.

Dahulu pelabuhan Perak ini terletak di Jembatan merah, data itu terekam dari bentuk bangunan yang berkarakteristik pelabuhan dikawasan Pabean Cantikan dan Kembang Jepun. Karena dirasa kurang memenuhi syarat, dipindah oleh pemerintahan Belanda ke Dermaga Ujung Perak.

Jaman Hindia Belanda, Kalimas dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya. Pada 1911, Belanda membangun pelabuhan Surabaya yang saat ini lebih dikenal dengan Tanjung Perak.

(Sazili Mustofa)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement