Sutoko bercerita penolakan pasien Covid-19 oleh rumah sakit mulai terasa selepas lebaran atau Juni silam. Tak hanya pasien positif virus corona yang ditolak, tapi korban kecelakaan juga ketiban sial.
Untuk menghindari kasus seperti itu terulang, kini ia selalu meminta keluarga pasien Covid-19 memastikan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit sebelum mengantar. Ia tak mau, ada pasien meregang nyawa lagi di ambulansnya.
"Pastikan dulu rumah sakitnya ada bed, daripada sudah bawa, meninggal di ambulans lebih menyedihkan lagi."
"Memang semuanya tergantung Allah, tapi dari saya merasa bersalah, merasa tidak bisa..." ucap Sutoko yang terdiam sejenak dan tak mampu merampungkan kalimatnya.
'Ada perasaan bersalah, menyesal'
Supono atau yang selalu dipanggil Cak Phonos, juga menyimpan perasaan yang sama seperti Sutoko begitu tahu pasien yang ia angkut tapi ditolak rumah sakit, meninggal di perjalanan.
"Getun [kecewa], kok sampai seperti itu. Juga ada perasaan bersalah," tuturnya sambil menghela napas.
Supono juga seperti Sutoko, relawan di Info Lintas Sidoarjo sejak 2016 sembari menjadi pengemudi ojek online.
Peristiwa meninggalnya pasien Covid-19 itu terjadi Sabtu 10 Juli lalu. Laki-laki berusia 30an tahun itu, kata dia, memiliki riwayat sakit batuk dan menggigil.