China Desak AS Ubah Pandangan tentang 'Musuh Imajiner'

Antara, · Senin 26 Juli 2021 18:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 26 18 2446297 china-desak-as-ubah-pandangan-tentang-musuh-imajiner-ZwuVrgGz5G.jpg Ilustrasi hubungan China - AS (Foto: Reuters)

BEIJING - Pemerintah China mendesak Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang "musuh imajiner".

"Alasan yang mendasari terganggunya hubungan China dan AS adalah masih adanya pandangan pihak AS terhadap China sebagai 'musuh imajiner'. AS harus mengubah pola pikir yang salah terhadap China itu," kata Wakil Menteri Luar Negeri China Xie Feng saat bertemu dengan Wamenlu AS Wendy Sherman di Tianjin, Senin (26/7).

Bahkan menurut dia, beberapa orang di AS telah mengangkat metafora "Perstiwa Pearl Harbour" dan "Peristiwa Sputnik" dalam konflik China-AS.

"Tujuan metafora semacam itu adalah untuk menjelek-jelekkan China sebagai 'musuh imajiner' guna mengalihkan perhatian warga AS dari ketidakpuasan mereka terhadap politik domestik, ekonomi, dan masyarakat," ujarnya.

(Baca juga: Macan Tutul Salju Langka Positif Terpapar Covid-19)

Dia mengemukakan bahwa kerja sama China-AS tidak hanya menguntungkan kedua negara melainkan juga memberikan kemanfaatan bagi negara lain di dunia.

"Kerja sama itu merupakan pilihan yang sangat bijaksana, sedangkan persaingan hanya akan menjadi jebakan," katanya.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan bahwa di dunia ini tidak boleh ada satu negara pun yang merasa superior terhadap negara lainnya.

"China tidak akan menerima negara mana pun yang memiliki pemikiran seperti itu," ujar Wang yang juga anggota Dewan Negara atau setingkat menteri koordinator tersebut.

(Baca juga: Bersitegang dengan China, Angkatan Udara AS Kirim 25 Jet Tempur F-22 ke Pasifik)

Wang menyatakan hal itu sebagai tanggapan atas pernyataan juru bicara Kemlu AS Ned Price bahwa perjalanan Sherman ke China dalam posisi negosiasi yang kuat.

"AS selalu menekan pihak lain dengan kekuatannnya sendiri. Tapi saya ingin menyampaikan kepada AS bahwa seharusnya tidak ada negara yang lebih unggul daripada yang lain," terangnya.

Pertemuan antarwamenlu China dan AS di Tianjin tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara, terutama saat AS menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat China terkait Hong Kong dan tuduhan serangan siber.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini