SOLO – Wafatnya pemimpin Pura Mangkunegaran Solo, Kanjeng Gusti Pangeran Ario Adipati Mangkunegoro (KGPAA) IX memang mengejutkan. Namun berpulangnya Mangkunegoro IX sekaligus membangkitkan lagi kenangan soal kiprahnya dalam bidang kebudayaan.
Di eranya yang sudah memasuki zaman modern di mana peran politik dan kekuasaan administratif sudah tak ada lagi, Pura Mangkunegaran masih mampu bertahan sebagai pusat rujukan kebudayaan Jawa. Mangkunegoro IX menjadi penerus leluhur dan pendahulunya, Mangkunegoro VII, yang juga merupakan seorang tokoh budaya.
Bahkan di era Mangkunegoro VII, pujangga yang juga penerima Anugerah Nobel untuk Kesusasteraan, Rabindranath Tagore, sempat bertandang cukup lama. Pujangga asal India itu menjadi tamu resmi Mangkunegoro VII dan menjadi salah satu undangan penting yang hadir saat upacara peringatan naik takhta atau jumenengan Mangkunegoro VII.
(Baca juga: Pemakaman Mangkunegara IX di Astana Girilayu Karanganyar Dilakukan Tertutup)
Bagaimana ceritanya? Dr. Arun Das Gupta dalam makalahnya, Rabindranath Tagore In Indonesia: An Experiment In Bridge-Building yang terhimpun dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 158 (2002), di mana solopos.com mengunduhnya dari situs www.kitlv-journals.nl memberikan ulasan yang lengkap mengenai kunjungan Tagore ini.
Tagore (1861-1941) berangkat dari kota tempat kelahirannya, Calcutta (kini Kolkata), India, pada 12 Juli 1927. Membersamainya berangkat pula pakar filologi atau pakar teks klasik Suniti Kumar Chatterji, seniman yang juga fotografer dan arsitek Surendranath Kar, serta pelukis dan pemusik Dhirendra Krishna Deva Varman. Mereka berangkat dengan kapal Prancis Ambois dari Kota Madras ke Singapura. Setelah sebulan tinggal di Singapura dan Malaya (kini Malaysia), rombongan kecil ini tiba di Batavia (Jakarta) pada 21 Agustus. Mereka kemudian berlanjut mengunjungi Bali, lantas Surabaya. Kemudian dengan perjalanan darat mereka berkunjung ke berbagai tempat di Jawa dari tanggal 9 hingga 30 September. Di akhir September itu rombongan Tagore meninggalkan Batavia dan pulang melalui Singapura.
(Baca juga: Hari Ini, Mangkunegara IX Dimakamkan Pukul 10.00 WIB)
Lantas apa yang mendasari rangkaian kunjungan ini? Arun Das Gupta yang mengutip Chatterji menyebut bahwa ini adalah misi budaya dari perguruan tinggi yang dipelopori Tagore yaitu Universitas Visva Bharati di Santiniketan. Misinya adalah mempelajari warisan budaya India di Indonesia (Hindia Belanda waktu itu), serta membangun kerja sama budaya antara India dengan kawasan Asia Tenggara.
Arun Das Gupta menambahkan penjelasan bahwa Tagore sendiri sudah lama penasaran dengan Bali karena agama Hindu dan budayanya masih sangat kuat di pulau itu. Selain itu Tagore sendiri sebelum berangkat menyatakan bahwa perjalanan itu adalah peziarahan ke tempat India berada di luar batas-batas geografis dan politik.
Sementara keterkaitan Tagore dengan Jawa tak lain karena salah satu penerjemah karya-karya Tagore ke dalam bahasa Belanda adalah Raden Mas Noto Soeroto, cucu penguasa Pura Pakualaman Yogyakarta, Sri Paku Alam V. R.M. Noto Soeroto yang aktif di dunia kesusasteraan di Belanda juga menulis sketsa biografi Tagore dan menulis buku tentang ide-ide pendidikan Tagore.