JAKARTA - Kebocoran data rahasia terkait dokumen pembenaran otoritas China untuk melakukan penahanan terhadap muslim Uighur di pusat-pusat interniran yang dijaga ketat di seluruh wilayah Xinjiang mulai diketahui publik dan dipublikasikan oleh media massa internasional.
(Baca juga: Kebocoran Dokumen: China Lakukan Penahanan Massal dan Kerja Paksa Terhadap Muslim Uighur)
Dokumen yang berisi catatan terperinci kehidupan keluarga Uighur yang telah ditahan pada kamp-kamp konsentrasi China terungkap dengan jelas.
Dokumen yang bocor ini berisikan file PDF setebal 137 halaman, berupa spreadsheet Excel dan tabel Word, yang mengungkapkan sebuah sistem pengawasan negara terperinci dan berjangkauan luas yang diterapkan oleh pemerintah daerah Xinjiang. Dirancang pula untuk menargetkan warga China yang mempraktikkan budaya atau agama mereka secara damai.
(Baca juga: Aktivis Muslim Uighur Ditangkap di Maroko)
Bocornya dokumen ini dinilai oleh Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) sebagai bukti yang memperkuat adanya pelanggaran HAM berat yang dilakukan China terhadap muslim Uighur di Xinjiang, China.
“Ini adalah kebocoran Dokumen sensitif pemerintah China terbesar ketiga dalam beberapa bulan terakhir, yang berisi informasi kampanye strategis Beijing untuk melucuti identitas budaya dan agama mayoritas muslim Uighur,” kata PJ Ketua Umum PB HMI, Romadhon JASN dalam keterangannya, Selasa (7/12/2021).
“Dari informasi yang kami terima, lembaran dokumen ini dapat menentukan apakah seseorang khususnya etnis Uighur tetap berada di balik kawat berduri di pusat penahanan pemerintah China. Ini jelas pelanggaran HAM,” lanjutnya.
Dokumen tersebut menyebutkan seorang etnis Uighur, Rozinsa Mamattohti, yang merasa dirinya bukanlah seorang pembangkang atau ekstremis, dibuat kaget dengan adanya lembaran catatan terperinci terkait seluruh anggota keluarganya yang disimpan oleh pemerintah China, mulai dari pekerjaan, aktivitas keagamaan, kepercayaan, hingga tingkat kerja sama mereka dengan pihak berwenang.
Pemerintah China sebelumnya mengklaim sedang menjalankan program deradikalisasi massal yang menargetkan ekstremis yang berpotensi untuk ditangkap, namun dilihat dari dokumen resmi yang telah diverifikasi tim ahli, menunjukkan siapa pun dapat ditangkap karena "mengenakan kerudung" atau menumbuhkan "jenggot panjang".
Sistem ini disinyalir digunakan pemerintah China yang dikuasai oleh Partai Komunis China (PKC) menjadi pembenaran penahanan jutaan etnis minoritas tanpa batasan jelas dan karena alasan sepele, menurut PB HMI.
“Bayangkan, persoalan bulu di dagu (janggut) atau krudung saja, bisa jadi alasan mereka (China) menangkap siapapun. Ada juga alasan karena melanggar kebijakan keluarga berencana atau sederhananya memiliki terlalu banyak anak, ini kan mengada-ada," kata Romadhon kepada wartawan.
Dokumen yang bocor juga menunjukkan bahwa Beijing menahan warga Uighur untuk tindakan yang "tidak mirip dengan kejahatan", dalam banyak kasus penahanan.
Sementara itu, Menlu China, Wang Yi dalam kesempatannya di Jerman menyatakan bahwa dengan senang hati menyambut setiap diplomat atau media internasional untuk mengunjungi Xinjiang, demi melihat sendiri kebenarannya, pada hari Kamis (2/12) lalu.
Wang Yi menyatakan kelompok etnis dapat hidup damai, harmonis dan kebebasan beragama dilindungi sepenuhnya tanpa batasan apapun dalam hal kegiatan beragama.
Namun, tanggapan berbeda disampaikan oleh Romadhon, dirinya mengatakan, “Itu kan lip service saja, wong kenyataannya banyak media internasional, salah satunya CNN yang belum tembus masuk ke kamp konsentrasi. Jangankan ke sana (kamp konsentrasi), masuk China saja mereka sulit."
PB HMI juga meminta kepada negara-negara dunia, termasuk Indonesia untuk fokus pada dokumen-dokumen China yang bocor ini, karena dapat menjadi bukti kuat terbaru sebagai alasan menekan China dalam menghentikan aktivitas apapun terhadap Xinjiang.
“Isi dokumen ini sangat penting bagi masyarakat dunia, karena dapat menunjukkan kepada kita pola pikir paranoid dari rezim komunis China yang jelas islamophobia,” ungkap Romadhon.
“Jika kekejian China ini dibiarkan, bukan tidak mungkin peradaban etnis Uighur hanya akan menjadi kenangan atau sejarah kelam dunia,” tutupnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.