Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Air Laut Berubah Jadi Merah Darah, Pertanda Buruk Perang Bubat

Avirista Midaada , Jurnalis-Jum'at, 28 Januari 2022 |05:10 WIB
Air Laut Berubah Jadi Merah Darah, Pertanda Buruk Perang Bubat
Air Laut Galuh berubah jadi merah darah sebelum perang bubat meletus. (Ilustrasi/Ist)
A
A
A

RAJA Sunda, Maharaja Linggabuana Wisesa, bersama permaisuri, dan beberapa pejabat istana pergi ke Majapahit. Rombongan itu ke sana untuk mengantarkan Dyah Pitaloka Citraresmi, sekaligus melangsungkan pesta pernikahan di ibu kota Majapahit.

Rombongan kecil itu dihadapkan dengan peristiwa yang sangat aneh saat hendak berangkat ke Majapahit. Air laut tempat kapal-kapal mereka bersandar tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah.

Pertanda buruk itu tak dihiraukan Maharaja Linggabuana Wisesa dan rombongannya. Mereka tetap berangkat menuju Majapahit dengan penuh misteri. Tidak terlalu banyak pasukan yang mengiringi perjalanan Maharaja Linggabuana Wisesa ke Majapahit.

Perjalanan jauh akan mereka tempuh dari Galuh menuju ibu kota Majapahit di Trowulan. Ratusan rakyat Galuh mengantarkan sang putri beserta raja dan penggawa menuju pantai. Mereka semua menyaksikan misteri air laut yang berubah warna menjadi merah darah itu.

Dikutip dari buku "Perang Bubat 1279 Saka: Membongkar Fakta Kerajaan Sunda Vs Kerajaan Majapahit" tulisan Sri Wintala Achmad, rombongan berangkat ke Majaphit di hari yang telah ditentukan.

Peristiwa Perang Bubat konon tak lepas dari kebimbangan Raja Hayam Wuruk dalam mengambil keputusan. Pasalnya, sebagi raja muda di Majapahit, Hayam Wuruk selama ini dibantu Mahapatih Gajah Mada yang lebih menjadi tokoh sentral layaknya sebagai posisi perdana menteri.

Saat rombongan Sunda tiba di Pesanggrahan Bubat, datanglah utusan Patih Amangkubhumi Gajah Mada. Mereka menyampaikan maksud agar Dyah Pitaloka Citraresmi diserahkan kepada Hayam Wuruk sebagai tanda takluk Sunda ke Majapahit.

Baca Juga : Ancaman Permaisuri Majapahit Jika Dirinya Dilengserkan

Namun, hal ini membuat Maharaja Linggabuana Wisesa merasa harga dirinya telah terinjak-injak dengan perlakuan Gajah Mada. Hal ini jelas ditolak Maharaja Linggabuana Wisesa. Namun, sebagai raja yang arif, Maharaja Linggabuana Wisesa enggan bertindak gegabah untuk serta merta langsung mengadakan perlawanan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement