Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita PKL AS Berjuang Keras Hadapi Gempuran Inflasi Hebat, Mau Tak Mau Harus Naikkan Harga

Susi Susanti , Jurnalis-Rabu, 31 Agustus 2022 |19:04 WIB
Cerita PKL AS Berjuang Keras Hadapi Gempuran Inflasi Hebat, Mau Tak Mau Harus Naikkan Harga
Cerita pedagang kaki lima menghadapi inflasi tinggi di AS (Foto: Reuters)
A
A
A

NEW YORK - Inflasi di Amerika Serikat (AS) dilaporkan mencapai rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir dan menimbulkan kekhawatiran Wall Street akan terjadinya resesi. Namun tampaknya justru para pelaku Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) dan konsumen -ah yang harus menanggung akibatnya.

Salah satu yang terkena dampak adalah para pedagang kaki lima (PKL) di New York, AS. “Jika Anda berkunjung ke Amerika, kami dikenal karena makanannya. Kami mencintai kuliner kami,” terang Benjamin Nansong, salah seorang warga kota New York, dikutip VOA.

Hanya sedikit tempat lain yang bisa menyamai keragaman kuliner kota New York dengan restoran dan berbagai jajanan kaki limanya di hampir setiap sudut.

Baca juga: Dolar AS Meroket Usai Pejabat The Fed Beri Sinyal Kenaikan Suku Bunga   

Namun kini inflasi dunia telah memicu lonjakan harga pangan di salah satu kota termahal di dunia itu.

“Harga empanada naik dari yang sebelumnya cuma USD3 (Rp44.000) menjadi tiba-tiba USD4,5 (Rp67.000). Sungguh gila, ini tidak masuk akal," ujar Silbert Gray, penduduk New York lainnya.

Baca juga: Pencairan BLT UMKM Rp600.000, Cek NIK KTP di Sini

Menurut Indeks Harga Konsumen Departemen Pertanian AS, harga pangan naik 10 persen dalam setahun terakhir, dengan tingkat inflasi yang mencapai rekor tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Para pedagang makanan di kota New York, seperti truk makanan (food truck) El Toro Rojo, sudah menaikkan harga menu mereka.

“Kami cukup khawatir, karena kami tidak ingin kehilangan pelanggan setia kami selama lima tahun terakhir, jadi kami harus berpikir tiga kali sebelum akhirnya menaikkan harga," kata Dennis Apreza, sang pemilik truk.

Dennis mengaku bisnis food truck-nya secara keseluruhan turun 15 persen sejak terjadinya pandemi. Padahal upah pegawai, pajak dan harga-harga lainnya naik. Ia berusaha memangkas ongkos usahanya dengan mengurangi porsi makanan, memasok bahan persediaan lebih sedikit, melayani acara-acara yang lebih besar.

"Alih-alih memasok berbagai bahan lewat distributor pihak ketiga, kini kami memilih bangun jam tiga atau empat dini hari untuk membeli bahan-bahan segar langsung dari pasar untuk memastikan kami mendapatkan harga pasar yang paling bersaing," tambahnya.

Para pakar menyebut lockdown akibat Covid di seluruh dunia mengganggu rantai pasok dan permintaan, sementara perang Rusia di Ukraina memperburuk masalah yang dihadapi bisnis-bisnis seperti food truck milik Dennis.

Sejak Oktober 2021 hingga Juni lalu, pemilik truk makanan El Toro Rojo telah menaikkan harga satu buah burrito sebesar satu setengah dolar, menjadi USD13,5 (sekitar Rp200 ribu). Dan bisa jadi harganya akan naik lagi.

“Setiap produk yang Anda beli dan Anda konsumsi dalam bentuk makanan pasti melalui serangkaian perjalanan kapal, truk, kereta. Mereka tidak tiba-tiba muncul di dapur Anda," tutur Mark A. Cohen, Direktur Studi Ritel dari Universitas Columbia.

Harga bahan bakar diesel untuk mengangkut barang telah naik 66 persen dalam setahun belakangan.

“Ini bukan inflasi yang disebabkan oleh Biden, ini bukan inflasi yang disebabkan oleh Putin. Inflasi ini terutama disebabkan oleh pandemi Covid-19," lanjutnya.

“Kita sepertinya harus menghadapi ini semua sampai tahun depan atau dua tahun lagi, sampai harga-harga mulai kembali stabil," tambahnya.

Beberapa pakar menilai, seiring naiknya ongkos untuk makan di restoran, pedagang kaki lima seperti truk makanan El Toro Rojo bisa jadi diuntungkan karena konsumen lebih memilih membeli makanan cepat saji.

Pada 16 Agustus lalu, Presiden AS Joe Biden menandatangani UU Pengurangan Inflasi 2022 untuk menurunkan harga obat, layanan kesehatan dan ongkos energi. Namun penelitian Universitas Pennsylvania menyatakan bahwa penerapan undang-undang itu hanya akan mengurangi tingkat inflasi tahunan 0,1 persen dalam lima tahun.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement