Share

Kisah Imigran Muslim yang Jadi Anggota Parlemen Eropa dan Role Model Politisi Muda

Tim Okezone, Okezone · Rabu 21 September 2022 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 20 18 2671439 kisah-imigran-muslim-yang-jadi-anggota-parlemen-eropa-dan-role-model-politisi-muda-31WYCUVG3A.JPG Magid Magid/Foto: BBC

JAKARTA - Tampilannya nyentrik. Mengenakan kaos oblong, sepatu bot warna hijau terang, dan topi warna kuning menyala, Magid memasuki gedung Parlemen Eropa. Sontak saja ia diusir salah seorang pegawai. Padahal hari itu adlaah hari pertamanya bekerja sebagai anggota Parlemen Eropa.

 BACA JUGA:Kasus Mutilasi Warga Papua, Komnas HAM: Ditemukan Sisa Karung untuk Potongan Tubuh Korban

"Saya sadar saya berbeda (dengan kebanyakan politisi lain). Saya tak punya cara untuk menyembunyikan identitas. Saya berkulit hitam dan nama saya Magid Magid. Saya tak akan menyesuaikan diri (menjadi anggota Parlemen Eropa)," demikian jawaban Magid setelah ia tak dibolehkan masuk ke kompleks parlemen, seperti dilansir dari BBC, Selasa (20/9/2022).

Parlemen Eropa membantah staf "mengusir" Magid. Magid sendiri meyakini orang yang mengusirnya adalah "pegawai Parlemen Eropa".

Seperti itulah gaya Magid, ia selalu berbicara lugas, ke pokok persoalan, dan tak mencoba menutup-nutupi perasaan.

Ia mengatakan insiden yang menimpa dirinya mencerminkan pandangan publik tentang apa yang mereka bayangkan sebagai politisi di Eropa: berkulit putih dan berjas rapi.

 BACA JUGA:Oknum ASN di Bangkalan Digerebek Pesta Sabu, Kendaraan Pelat Merah Turut Diamankan

Pendapatnya bisa dipahami karena dari 751 anggota Parlemen Eropa, yang berkulit hitam seperti dirinya kurang dari 12 orang.

Bagi warga Sheffield, Inggris, Magid dan pernyataannya yang lugas bukan hal yang aneh. Di Sheffield inilah ia menjadi wali kota selama satu tahun, sebelum terpilih sebagai anggota Parlemen Eropa dalam pemilihan pada Mei 2019.

Anak dari imigran Muslim asal Somalia menjadi politisi populer di Inggris

Magid lahir di Burao, Somalia utara pada 1989. Pada 1994, ia dibawa keluarganya meninggalkan Somalia yang dilanda perang untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Setelah berada di kamp pengungsian selama enam bulan di Ethiopia, ia menetap di Sheffield bersama ibu dan lima saudara.

Ia mulai tertarik dengan politik ketika terpilih menjadi presiden serikat mahasiswa Universitas Hull.

Setelah lulus, ia tetap menekuni politik dan menjadi aktivis di sela-sela kesibukan menjalankan bisnis marketing digital.

Pada 2016 ia diangkat menjadi anggota Dewan Kota Sheffield dan pada 2018 ia terpilih sebagai wali kota. Ini adalah jabatan seremonial namun selama menjabat, ia bertekad untuk menjadi wali kota yang berbeda.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Ia ingin jabatannya menarik sebanyak mungkin orang, terutama anak-anak muda, untuk tertarik dengan politik, tertarik dengan urusan pemerintahan.

Magid menjadi wali kota di usia yang relatif muda dan ini tercermin dengan caranya berpakaian. Ia lebih sering memakai kaus oblong, celana jin, sepatu bot, dan topi bisbol.

 BACA JUGA:Eksklusif Hadir di AladinMall, Jabra Indonesia Diskon hingga 50%!

Banyak yang memujinya dan menggambarkannya sebagai "wajah segar" politisi, yang biasanya identik dengan usia paruh baya dan pakaian resmi.

Namun ada juga yang tidak setuju. Ia menerima banyak pesan kebencian, salah satunya menyatakan, dan ini ditulis di surat pembaca koran setempat, bahwa sebagai orang berkulit hitam, ia "tak layak menjadi pejabat".

Dikatakan "telah membuat malu Sheffield"

Menanggapi surat ini, Magid mengatakan dirinya tak bisa memaksa semua orang untuk menyukainya. "Tapi saya menghormati pendapat mereka," katanya.

Selama menjabat sebagai wali kota antara Mei 2018 hingga Mei 2019 ia antara lain mengeluarkan keputusan untuk melarang Presiden Amerika Serikat berkunjung ke Sheffield.

Setelah jabatan wali kota berakhir, ia terpilih sebagai anggota Parlemen Eropa dari Partai Hijau. Keberhasilan sebagai politisi yang populer membuatnya jadi model model bagi komunitas Afrika di Inggris. Ia dianggap berhasil membongkar mitos bahwa politisi, wali kota dan anggota parlemen hanya untuk kaum kulit putih.

 BACA JUGA:Rebutan Berlian, 4 Negara Ini Minta Pihak Kerajaan Inggris Kembalikan Berlian Milik Ratu Elizabeth II

Ia dianggap berhasil membuat anggapan menjadi politisi adalah sesuatu yang keren. Magid tak hanya menginspirasi kaum muda di Inggris tapi juga di banyak negara.

"Ia adalah simbol harapan," kata Jude Smith, pemuda Sheffield berusia 15 tahun yang menjadi anggota organisasi yang mendorong anak-anak muda untuk suka dengan politik.

"Tadinya tak banyak anak-anak muda yang tertarik dengan politik. Semuanya berubah ketika Magid menjadi wali kota," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini