Share

Ziggurat Ur, Pusat Peradaban yang Terlupakan di Tengah Gurun Pasir Irak

Susi Susanti, Okezone · Rabu 21 September 2022 13:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 21 18 2671934 ziggurat-ur-pusat-peradaban-yang-terlupakan-di-tengah-gurun-pasir-irak-wUwzfuwJ9u.jpg Ziggurat Ur, pusat peradaban yang terlupakan di tengah gurun pasir Irak (Goto: Geena Truman)

MESIR – Tak kalah dengan Mesir yang mempunyai Piramida Giza, Irak juga diketahui memiliki Ziggurat Ur. Ini adalah bangunan tinggi yang menjulang di atas reruntuhan kota kuno penting. Sekitar 4.000 tahun yang lalu, gurun pasir Irak ini adalah pusat peradaban.

Reruntuhan kota besar Ur, yang pernah menjadi ibu kota administratif Mesopotamia, sekarang berada di gurun tandus dekat penjara paling terkenal di Irak.

Di ujung jalan kayu yang panjang, ziggurat yang nampak sangat mengesankan menjadi satu-satunya peninggalan yang tersisa dari kota metropolis Sumeria kuno.

 Baca juga: Deretan Dewa dan Dewi Paling Penting dari Zaman Peradaban Mesir

Untuk sampai ke sini, tim BBC harus berdesakan di kursi belakang taksi yang meluncur melalui padang pasir selama berjam-jam, sampai akhirnya bisa mulai melihat monumen terkenal ini menjulang di kejauhan. Ziggurat Kota Ur, raksasa berusia 4.100 tahun, kuil berjenjang dengan banyak tangga raksasa.

 Baca juga: Ilmuwan Ungkap Bahan Bangunan Piramida Mesir dan Sesuai Alquran

Pagar rantai tinggi yang membatasi pintu masuk dan tempat parkir beraspal adalah satu-satunya representasi dari dunia modern.

Ziggurat pertama sudah ada sebelum piramida Mesir, dan beberapa sisanya masih dapat ditemukan di Irak dan Iran modern.

Bangunan ini sama mengesankannya dengan piramida Mesir dan sama-sama punya tujuan keagamaan, tetapi ada perbedaan antara keduanya. Ziggurat memiliki beberapa tingkat, sedang piramida berdinding datar, ziggurat tidak memiliki ruang atau kuburan di dalamnya, tapi punya kuil di bagian paling atas.

Baca Juga: Wujudkan Indonesia Sehat 2025, Lifebuoy dan Halodoc Berkolaborasi Berikan Akses Layanan Kesehatan Gratis

"Ziggurat adalah bangunan suci, pada dasarnya sebuah kuil di atas bangunan bertangga," kata Maddalena Rumour, spesialis Timur Dekat Kuno di Case Western Reserve University di AS, dikutip BBC.

"Kuil-kuil paling awal menunjukkan konstruksi sederhana berbentuk kuil satu kamar di atas panggung kecil. Seiring waktu, kuil-kuil dan platform berulang kali direkonstruksi dan diperluas, kerumitan dan ukurannya pun berkembang, mencapai bentuk paling sempurnanya yang bertingkat-tingkat pada Ziggurat [dari Ur],” lanjutnya.

Ziggurat Ur dibangun sedikit lebih muda yakni sekitar 680 tahun dari piramida pertama, tetapi terkenal karena salah satu yang paling terpelihara, dan lokasinya di Ur, tempat terkemuka dalam buku-buku sejarah.

Menurut Rumour, Mesopotamia adalah asal irigasi buatan pertama. orang-orang Ur memotong kanal dan parit untuk mengatur aliran air dan mengairi lahan yang jauh dari tepi Sungai Eufrat.

Ur juga diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Ashraf mengantar kami melewati reruntuhan tembok kota dan menjelaskan bahwa Ur adalah rumah dari kode hukum pertama, Kode Ur-Nammu, ditulis sekitar 2100 SM, atau 400 tahun sebelum Kode Hammurabi Babilonia yang lebih terkenal.

"Di Mesopotamia, setiap kota diyakini didirikan dan dibangun sebagai tempat tinggal dewa/dewi... yang bertindak sebagai pelindung dan otoritas politiknya," terangnya.

Di Ur, dewa itu adalah Nanna sang dewa bulan. Ziggurat dibangun sebagai rumah dan kuil duniawi untuknya.

"Pemujaan Nanna berkembang sangat awal di sekitar aliran sungai Efrat yang lebih rendah (Ur adalah pusatnya) sehubungan dengan penggembalaan sapi dan siklus alam yang meningkatkan kawanan ternak," katanya.

Tingkat struktur yang lebih rendah tetap ada sampai sekarang, meskipun kuil dan teras atas di bagian atas telah hilang.

Untuk mengetahui seperti apa bentuk aslinya, para ahli telah menggunakan semua jenis teknologi dan tulisan kuno (dari sejarawan seperti Herodotus, dan juga Alkitab).

Dalam makalahnya tahun 2016 berjudul 'A Ziggurat and the Moon', Amelia Sparavigna, seorang spesialis pencitraan arkeologi di Polytechnic University of Turin, menulis: "[Ziggurats] adalah struktur piramida dengan puncak datar, dengan inti yang terbuat dari batu bata yang dipanggang matahari, ditutupi oleh batu bata yang dibakar. Bagian depannya sering diglasir dengan warna yang berbeda...".

Berdasarkan sisa-sisa yang ditemukan di situs tersebut, secara umum disepakati bahwa Ziggurat Ur memiliki sebuah kuil berwarna biru langit yang terletak di atas dua tingkat bata lumpur yang besar.

Dasarnya sendiri terdiri dari lebih dari 720.000 batu bata lumpur yang ditumpuk dengan cermat, dengan berat masing-masing mencapai 15 kg.

Mencerminkan pengetahuan Sumeria tentang siklus bulan dan matahari, masing-masing dari empat sudut ziggurat menunjuk ke arah mata angin setepat kompas, dan tangga besar ke tingkat atas berorientasi ke arah titik balik matahari musim panas terbit.

Tim BBC bisa melihat sisa-sisa pencapaian besar ini saat pemandu wisata Ashraf membawa tim dan beberapa turis lainnya ke tangga utama. Dia tahu situs dengan baik. Ashraf diketahui pindah ke sini dengan ayahnya 38 tahun yang lalu untuk membantu penggalian arkeologi, dan rumah keluarganya terletak hanya beberapa langkah dari pintu masuk.

Begitu tim BBC mencapai puncak, tim pun bisa membayangkan kerajaan kuno terbentang ke segala arah pada ribuan tahun yang lalu.

Raja Ur-Nammu meletakkan batu bata pertama ziggurat pada tahun 2100 SM, dan pembangunannya kemudian diselesaikan oleh putranya, Raja Shulgi.

Pada saat itu, Ur merupakan ibu kota Mesopotamia yang berkembang pesat. Pada abad ke-6 SM, ziggurat itu hancur karena panasnya gurun yang ekstrem dan pasir yang keras.

Raja Nabonidus dari Babilonia mulai bekerja memulihkannya sekitar 550 SM.

Alih-alih mengembalikan tiga tingkat asli, ia membangun tujuh, menyelaraskan dengan struktur megah Babilonia lainnya pada waktu itu, seperti ziggurat Etemenanki, yang diyakini sebagian orang sebagai yang menara Babel yang terkenal.

Sebagian besar ziggurat tetap utuh hingga hari ini, karena tiga inovasi cerdik oleh para insinyur asli Sumeria.

Pertama, ventilasi. Seperti ziggurat lainnya, ziggurat ini dibangun dengan batu bata lumpur di bagian dalam, dan dikelilingi batu bata bagian luar yang dipanggang dengan sinar matahari.

Karena pondasi bangunan bisa menyerap kelembapan yang dapat menyebabkan degradasi keseluruhan struktur, orang Sumeria membuat ratusan lubang persegi di dinding luar demi penguapan cepat.

Rumour menjelaskan bahwa tanpa detail ini, "interior bata lumpur bisa melunak saat hujan deras, dan akhirnya menggembung atau runtuh".

Kedua, dinding dibangun sedikit miring. Air bisa mengalir ke sisi ziggurat, mencegah genangan di tingkat atas. Sudut-sudutnya membuat struktur tampak lebih besar dari kejauhan, sehingga mengintimidasi musuh kekaisaran.

Terakhir, kuil di atasnya dibangun dengan batu bata lumpur yang dipanggang penuh dan disatukan oleh bitumen. Tar yang terbentuk secara alami ini mencegah rembesan air ke dalam batu bata dalam yang belum dipanggang.

Terlepas dari pencapaian-pencapaian ini, pada abad ke-6 M, kota metropolitan yang pernah berkembang pesat itu telah mengering, secara metaforis dan fisik.

Sungai Efrat berubah arah, menjadikan kota tanpa air dan karenanya tidak dapat dihuni. Ur dan ziggurat ditinggalkan dan kemudian terkubur di bawah gunung pasir oleh angin dan waktu.

Baru pada 1850, sisa-sisa ziggurat ditemukan kembali. Pada 1920-an, arkeolog Inggris Sir Leonard Woolley memimpin penggalian monumen yang mendalam, mengungkap apa yang tersisa dari struktur dan menemukan belati emas, patung pahatan, kecapi halus, dan hiasan kepala rumit dari kuburan sekitarnya.

"Dengan hanya 30% dari situs yang digali, masih banyak lagi yang harus ditemukan,” terang Ashraf.

Meski begitu, ziggurat cukup penting untuk dijadikan pion pada masa perang modern. Selama Perang Teluk pada 1991, Saddam Hussein memarkir dua jet tempur MiG-nya di samping ziggurat.

Saddam berharap situs bersejarah itu akan mencegah Amerika Serikat (AS)dan negara-negara asing lainnya menyerang pesawatnya. Sayangnya, ziggurat masih mengalami kerusakan ringan.

Pada 2021, Irak membuka pintunya ke berbagai negara Barat, dan pariwisata muncul perlahan (meskipun banyak pemerintah masih menyarankan untuk tidak bepergian ke sini).

Janet Newenham, seorang jurnalis perjalanan Irlandia dan pemilik Janet's Journeys, mengunjungi Irak tak lama setelah program visa-on-arrival diluncurkan.

Sejak itu, ia telah memimpin beberapa tur kelompok ke wilayah tersebut. "Pada perjalanan pertama kami pada Juli 2021, kami tidak melihat satu turis lain pun," katanya.

"Pada saat perjalanan saya pada April 2022, kami sering bertemu dengan sekelompok kecil turis petualang... tapi kami tidak pernah melihat lebih dari empat atau lima turis lain sekaligus,” lanjutnya.

Namun hampir setiap hari, Ashraf menerjang panas untuk membantu wisatawan memahami pentingnya ziggurat.

Dia mengaku belajar bahasa Inggris secara otodidak dengan "mempelajari kamus" dan ketika sebagian besar pengunjung asingnya adalah orang Jepang, dia mulai belajar bahasa Jepang juga.

Saat tim BBC dengan hati-hati menaiki tangga besar yang menuju ke lantai atas yang datar, tim masih bisa melihat bitumen di antara batu bata yang pecah.

Tim juga melihat batu bata kecil bertulisan yang mencatat jasa Saddam Hussein untuk rekonstruksi parsial pada 1980.

Teras atas dan kuil berwarna-warni telah lama hancur dan hilang dimakan waktu. Tetapi di seberang padang pasir yang hampir datar, tim BBC bisa melihat gundukan kecil tersebar di seluruh area, menunggu untuk digali.

Tidak diragukan lagi, daerah ini menyembunyikan dunia harta karun yang belum ditemukan.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini