Share

Kisah Korban Tragedi Kanjuruhan: Lutfia Mohon ke Ibunya Tonton Arema untuk Terakhir Kalinya

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 04 Oktober 2022 12:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 04 519 2680261 kisah-korban-tragedi-kanjuruhan-lutfia-mohon-ke-ibunya-tonton-arema-untuk-terakhir-kalinya-W0blfcsuv9.jpg Ayah korban, Lutfiah yang menjadi korban tragedi Kanjuruhan (Foto: MPI)

MALANG - Mufid hanya bisa memegangi foto anak keduanya yang menjadi korban meninggal dunia dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Lutfia berusia 20 tahun turut menjadi korban dari 125 orang yang meninggal dunia pada laga Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu malam, 1 Oktober 2022.

Ditemui di rumahnya di Jalan Sadewo Nomor 47 RT 3 RW 3 Kelurahan Polehan, Blimbing, Kota Malang, Mufid menuturkan bagaimana awalnya sang anak tetap nekat berangkat meski sempat dilarang berangkat melihat oleh ibunya.

"Anak saya boncengan sama temannya perempuan, dia juga meninggal. Dua-duanya sama meninggal dunia," ucap Mufid.

Saat mendapat kabar anaknya meninggal dunia, ia mengaku tengah bekerja sebagai tukang bangunan di Surabaya. Begitu menerima informasi dari istri pada Minggu 2 oKTOBER 2022 pukul 11.00 WIB, ia PUN jatuh pingsan dari tempatnya bekerja.

Baca juga: Akmal Marhali Sebut PSSI Wajib Berbenah soal Jam Malam Pertandingan Liga dan Pemilihan Stadion Pakansari

Mufid baru sadar setibanya di rumahnya dan tampak terkejut mendengar kabar itu.

"Kerja tukang bangunan di atas tahu-tahunya di bawah nggak sadar, pingsan nggak sadar, sampai rumah posisi pingsan, baru sadar ketika di rumah," ungkap dia.

Baca juga: Bandingkan Sepakbola Gajah dan Insiden Kanjuruhan, Akmal Marhali: Kalau Saya Jadi Iwan Bule, Saya Sudah Mundur!

Lutfia sendiri dapat ditemukan setelah salah satu teman kakak Lutfia, yang juga berangkat ke Stadion Kanjuruhan, Malang mencari keberadaannya di rumah. Namun karena tak juga pulang hingga Minggu 2 Oktober 2022 pagi, temannya itu lantas mengajak kakak Lutfia mencari keberadaannya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Jadi waktu itu anak pertama saya mau takziah ke tempat teman, dicari nggak ketemu. Nanya temannya, adik saya nggak pulang juga, akhirnya balik nyari anak saya. Tahu info dari teman anak di RSUD Kanjuruhan, Minggu paginya," tuturnya.

Saat ditemukan Lutfia disebut ayahnya dalam kondisi mengalami luka lebam di pelipis kanan, hidung keluar darah mimisan, pantat ditemukan lebam dan darah kotor. Tak ada penjelasan detail dari pihak tim medis, pihak keluarga hanya diberi surat keterangan meninggal dunia tanpa ada penyebab apapun.

"Memang ada surat, surat itu dari RSUD. Tidak ada keterangan lebih jelas hanya nama dan meninggal," katanya.

Ia merasa tak percaya anaknya menjadi korban meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan Malang. Pasalnya Lutfia selama 20 tahun tak pernah melihat pertandingan Arema FC secara langsung dan bahkan tidak begitu suka sepakbola.

Baca juga: 30 Korban Tragedi Kanjuruhan Masih Dirawat di RSSA

"Percaya nggak percaya, anak saya nggak pernah suka sepakbola. Nggak pernah kepikiran segitu, dia baru pertama kali nonton. Makanya minta izin ibunya untuk lihat, padahal sudah dilarang tapi mohon-mohon," bebernya.

Dirinya menyebut sang ibu sempat diminta Lutfia untuk tidak ikut berjualan pada Sabtu 1 Oktober 2022, karena akan melihat Arema FC vs Persebaya Surabaya.

Baca juga: Berkaca Tragedi Kanjuruhan, BNPB: Perlu Pengurangan Risiko Bencana Konsep Lokalitas

Sebab selama ini perempuan lima bersaudara ini sering membantu ibunya di pasar, kendati telah bekerja selama dua bulan.

"Sempat pamitan sama ibunya Sabtu malam habis maghrib. Dia mohon-mohon ke ibunya kali ini saja nonton, habis itu nggak nonton lagi janjinya, sempat minta uang juga untuk beli tiket pertandingan," katanya.

"Baik anaknya, nggak pernah bantah orangtua, sekolah juga nggak pernah bolos, selalu bantuin ibunya jualan di pasar. Kemarin itu nyuruh jangan jualan dulu, mau lihat Arema, penurut anaknya," tambahnya.

Mufid tak menyangka bila kalimat permohonan menonton terakhir Arema FC ternyata menjadi pertanda Lutfia pergi selama-lamanya. Ia pun mengecam aksi aparat keamanan yang menyemprotkan gas air mata ke arah yang membuat ribuan penonton tidak aman.

"Anak saya dari sini berangkat sehat senang, pulang tinggal nama, sudah beli karcis, sudah betul-betul resmi, kalau ilegal nggak beli tiket ya wajar. Seharusnya aparat punya tanggung jawab penuh sama suporter yang sudah punya tiket," jelasnya.

"Anak saya beli tiket, nggak suporter ilegal, dia itu legal, suporter seharusnya kalau punya tiket bisa nonton dengan aman. Fungsinya tiket itu mau nonton aman, dia suporter legal, saya nggak terima. Saya nggak terima dengan minta maaf, saya tetap nggak terima," tukasnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini