Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Curhat Ibu yang Kehilangan Buah Hati karena Gagal Ginjal: Saya Enggak Kuat

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Jum'at, 21 Oktober 2022 |18:46 WIB
Curhat Ibu yang Kehilangan Buah Hati karena Gagal Ginjal: Saya Enggak Kuat
Orangtua menunggu anaknya yang didiagnosa gagal ginjal (Foto: Antara)
A
A
A

JAKARTA - Sejumlah orang tua yang kehilangan anaknya karena gagal ginjal mengaku memperoleh obat sirup parasetamol dari puskesmas dan klinik – fasilitas kesehatan pertama melalui jalur BPJS Kesehatan.

Obat ini dikhawatirkan terkait dengan kematian buah hati mereka, meskipun pihak berwenang belum bisa memastikannya.

Sejauh ini Kementerian Kesehatan melarang sementara penggunaan obat-obatan sirup setelah terdapat hampir 100 kematian anak karena gagal ginjal, seperti dikutip BBC Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengambil langkah melarang penggunaan lima merek obat sirup, dan menyerukan penarikan dari pasaran.

Sementara, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai langkah monitoring BPOM tidak efektif, dan membuka peluang pidana bagi perusahaan yang lalai dalam menerapkan obat yang aman.

Siang hari, biasanya Agustina Melani sedang bermain dengan putrinya, Nadira Azea Almaira, yang baru berusia 15 bulan. Putri semata wayang yang lahir setelah usia pernikahannya melewati usia enam tahun ia katakan "lagi lucu-lucunya“.

"Banyak mainannya. Boneka-boneka. Terakhir itu saya beliin kids walker-nya, baru dipakai seminggu sama dia,“ kata Agustina mengenang hari-hari terakhir bersama buah hatinya.

Tapi semua mainan itu sudah menyepi di pojokan rumah.

Nadira Azea Almaira meninggal setelah dinyatakan gagal ginjal pada 25 Agustus 2022. Ia sempat menjalani perawatan selama lima hari di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta.

"Sebelumnya tidak pernah sakit gimana-gimana. Paling sakit pilek, demam, mau tumbuh gigi. Jarak dua hari sembuh, main lagi,“ katanya.

Agustina menceritakan awalnya Nadira hanya batuk dan flu. Kondisinya memburuk setelah diminumkan obat sirup parasetamol dari sebuah Puskesmas di bilangan Jakarta Selatan.

“Setiap empat jam aku kasih [obat], karena panasnya nggak turun-turun. Sempat sembuh, tapi demam lagi. Akhirnya tidak pipis,” katanya.

Urin yang tidak keluar juga disertai pembengkakan pada tubuh Nadira. Setelah masuk ke beberapa rumah sakit, terakhir Nadira dilarikan ke RS Fatmawati.

Diagonsis laboratorium menunjukkan kreatinin dan ureum Nadira pada angka yang melampaui ambang batas. Artinya ginjal Nadira tidak berfungsi.

“Dan akhirnya meninggal dengan begitu cepat. Dengan sakit yang begitu mengerikan.”

"Kalau memang benar-benar sudah terbukti ini [ada] kelalaian dari pihak farmasi, tentunya kami semua para orang tua korban akan menindaklanjuti kasus ini, untuk meminta pertanggung jawaban atas kasus yang menimpa anak-anak kami,“ tambah Agustina.

Cyrene Melody Mamonto, 2 tahun 7 bulan, juga mengalami gagal ginjal dan tak bertahan setelah serangkaian perawatan di rumah sakit. Ia sempat mengkonsumsi obat parasetamol yang dibeli di pasaran, termasuk di rumah sakit.

"Dua minggu sebelum dia meninggal itu. Kami ke gereja, kami ke … maksudnya anaknya aktif. Jalan ke sana kemari, main… Kayak diracuni gitu dengan tiba-tiba. Cuma racun yang kuat, yang bisa buat dia kayak gitu [meninggal],” kata Curie Mamonto Loho, ibu dari Melody.

Untuk mengambil langkah selanjutnya, Curie masih menunggu hasil penyelidikan yang saat ini dilakukan BPOM, Kemenkes, Ikatan Dokter Anak Indonesia, ahli epidemiolog, farmakolog dan laboratorium kepolisian.

"Harus menunggu penelitiannya. Hasilnya seperti apa,” katanya.

Siti Suhardiyati memaksakan diri membereskan mainan Umar Abu Bakar, anak bungsunya yang meninggal 24 September 2022 lalu. Air matanya mengalir deras dipicu rasa kehilangan.

Beragam mainan itu mengingatkannya pada sosok Umar yang ceria dan penyayang. “Saya nggak kuat,” ungkapnya pilu.

Umar Abu Bakar, berusia 2 tahun 10 bulan ketika dinyatakan meninggal oleh dokter di RS Cipto Mangunkusomo (RSCM) Jakarta. Umar didiagnosis mengalami gagal ginjal.

Siti tidak merasakan kecurigaan sedikit pun, ketika Umar mengalami demam, batuk, pilek, dan diare, pada Sabtu, 10 September 2022. Ia hanya berpikir, anak keduanya itu cuma mengalami sakit yang umum dialami anak-anak balita.

Namun karena disertai diare, Siti membawa Umar berobat ke sebuah klinik di Bekasi yang menjadi layanan kesehatan tingkat pertama BPJS Kesehatan.

Ia dan Umar pulang dengan membawa tiga jenis obat, termasuk paracetamol sirup. Setelah tiga hari mengkonsumsi obat, Umar mendadak berhenti kencing.

“Malamnya masih pipis, tapi Selasa pagi, sudah gak ada pipis. Saya gantiin pampers kan biasanya pagi penuh, tapi ini sudah nggak ada pipis,” tutur Siti.

Umar beberapa kali dirawat di rumah sakit, sebelum akhirnya dirujuk ke RSCM.

Siti tidak menyangka sedikit pun anaknya bakal mengalami gangguan ginjal akut karena Umar tidak memiliki riwayat penyakit berat. “Makanya bingung, kok bisa gagal ginjal akut,” ucapnya.

Siti mengaku heran, mengapa kasus tersebut baru diangkat ke media belakangan ini, padahal kasusnya sudah ada sejak awal tahun ini.

Mengenai dugaan kandungan etilen glikol dan dietilen glikol dalam obat yang menjadi penyebab sakit tersebut, Siti kembali menyatakan kebingungannya.

“Saya juga bingung sebenarnya ini, kenapa bisa ada yang berbahaya dari si (obat) sirup ini. Padahal kalau memang dia ber-BPOM kan seharusnya sudah diuji. Kenapa bisa ada kandungan-kandungan lain yang berbahaya di dalam obat itu.”

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement