Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Bahan Baku Obat-Obatan Berasal dari Impor, Apa Pengaruhnya?

Nadilla Syabriya , Jurnalis-Senin, 31 Oktober 2022 |12:28 WIB
Bahan Baku Obat-Obatan Berasal dari Impor, Apa Pengaruhnya?
A
A
A

JAKARTA - Kasus gagal ginjal akut pada anak tengah merebak di Indonesia saat memasuki Oktober 2022. Kala itu, jumlah penderita gagal ginjal akut pada anak berjumlah sekitar 36 kasus. Namun, data yang dikeluarkan Kemenkes per 26 Oktober 2022 kemarin yakni mencapai 269 orang.

Akibat meningkatnya jumlah penderita gagal ginjal akut pada anak, membuat sejumlah masyarakat bertanya-tanya, mengapa kasus tersebut baru meningkat akhir-akhir ini? Padahal, banyak dari mereka yang sudah mengonsumsi obat sirup sejak lama.

Perlu diketahui bahwa saat ini sekitar 90% bahan baku obat masih bersumber impor dan berdasarkan data produk yang tayang di e-katalog, sekitar 34,7% merupakan produk impor, yang didominasi oleh produk-produk inovatif (produk paten dan produk biologi, termasuk produk darah).

Namun apakah bahan baku impor tersebut benar mempengaruhi dalam produksi obat sehingga menyebabkan kasus gagal ginjal seperti sekarang ini? Dekan Sekolah Farmasi ITB Profesor I Ketut Adnyana memberikan penjelasannya.

“Produk farmasi memang sebagian besar berbahan dasar impor dan memang sudah diatur dalam regulasinya sejak dulu,” kata Prof Ketut dalam Special Dialog Okezone.

Menurutnya, hal ini bukanlah suatu yang aneh karena penggunaan bahan baku impor sudah dilakukan sejak dulu. Kasus ini muncul saat ditemukan bahan yang melebihi batas pemakaian yang tentu sangat mempengaruhi tubuh manusia.

Ratusan anak penderita gagal ginjal akut itu, disebutkan sudah terkontaminasi pelarut yang tercampur pada obat sirup dan dikonsumsi anak-anak. Ada empat pelarut yang diduga mencemari etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Yakni, Propilen Glikol, Polietilen Glikol, Sorbitol, dan Gliserin atau Gliserol.

Terkait hal tersebut, ia pun sudah bergerak untuk melakukan tindak penelitian yang lebih komprehensif bersama ikatan IAI dan LSM.

Lebih lanjut Prof Ketut memberikan penekanan bahwa masyarakat dituntut cerdas dalam menanggapi situasi ini. Salah satunya dengan melakukan diskusi dengan sumber yang tepat dan terpercaya seperti praktisi kesehatan.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement