Share

Resep Bahagia Ala Toko Roti Kota Kuno Pompeii yang Musnah 2.000 Tahun Lalu

Tim Okezone, Okezone · Selasa 06 Desember 2022 05:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 05 18 2720844 resep-bahagia-ala-toko-roti-kota-kuno-pompeii-yang-musnah-2-000-tahun-lalu-AcIz8rcfwF.JPG Ilustrasi/ Doc: BBC

JAKARTA - Terlepas dari pandemi yang secara radikal mengubah kehidupan miliaran orang, "Laporan Kebahagiaan Dunia" menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan tetap stabil di dunia, sebuah bukti ketahanan umat manusia.

Sebagai seorang mahasiswa kajian dunia kajian dunia klasik, diskusi tentang kebahagiaan yang biasa terjadi di tengah krisis pribadi atau sosial, seperti yang kita alami, bukanlah hal baru bagi saya.

 BACA JUGA:PVBMG: Erupsi Gunung Semeru Tidak Picu Tsunami, Masih Berstatus Awas Hingga Siang ini

Habitat felicitas atau "Kebahagiaan berdiam di sini" tertera dalam sebuah plakat yang ditemukan di toko roti Pompeii, sekitar 2.000 tahun silam, setelah pemiliknya hidup dan barangkali meninggal dalam letusan Vesuvius yang menghancurkan kota itu pada tahun 79 M.

Apa arti kebahagiaan bagi pembuat roti Pompeii ini? Dan bagaimana mempertimbangkan pandangan bangsa Romawi tentang felicitas membantu pencarian kebahagiaan kita dewasa ini?

 BACA JUGA:Bangunan Strategis hingga Sekolah Jadi Kantong Parkir untuk Tamu Pernikahan Kaesang-Erina

Kebahagiaan bagiku, tapi tidak untukmu

Dilansir dari BBC, Senin (5/12/2022), Bangsa Romawi menganggap Felicitas dan Fortuna, sebuah kata saling terkait yang berarti "keberuntungan", sebagai dewa-dewi.

Masing-masing memiliki kuil di Roma, di mana mereka yang mencari bantuannya dapat memberikan semacam sesaji dan doa-doa.

Felicitas juga digambarkan pada koin Romawi dari abad pertama SM hingga abad keempat, menunjukkan hubungannya dengan kemakmuran keuangan sebuah negara.

Koin yang dicetak oleh para kaisar, selanjutnya, menghubungkannya dengan diri mereka sendiri.

"Felicitas Augusti," misalnya, terlihat pada koin emas kaisar Valerian, ikonografi yang menunjukkan bahwa dia adalah orang paling bahagia pada kekaisaran itu, dan disukai oleh para dewa.

Dengan mengeklaim felicitas untuk tempat tinggal dan bisnisnya sendiri, para pembuat roti Pompeii bisa saja menjalankan filosofi nama tersebut berikut klaim-klaim di baliknya dan berharap berkah kebahagiaan seperti itu demi bisnis dan hidupnya.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Namun demikian, di luar pandangan tentang uang dan kekuasaan sebagai sumber kebahagiaan, ada ironi yang kejam. Felicitas dan Felix adalah nama yang umum digunakan untuk budak perempuan dan laki-laki.

Misalnya, Antonius Felix, gubernur Yudea pada abad pertama, adalah seorang mantan budak, jelas, keberuntungannya jauh berbeda dari namanya, sementara Felicitas adalah nama budak perempuan yang mati syahid bersama Perpetua pada tahun 203 M.

Bangsa Romawi menganggap para budak sebagai bukti status superior pemiliknya dan perwujudan kebahagiaan mereka.

Dilihat dari sudut ini, kebahagiaan muncul sebagai permainan zero-sum, terjalin dengan kekuatan, kemakmuran, dan dominasi.

Felicitas di dunia Romawi memiliki harga, dan orang-orang yang diperbudak membayarnya untuk memberikan kebahagiaan kepada tuannya.

Cukuplah untuk mengatakan bahwa bagi yang diperbudak, di mana pun kebahagiaan berada, itu bukanlah di Kekaisaran Romawi.

Di mana sebenarnya kebahagiaan berada?

Dalam masyarakat saat ini, apakah kebahagiaan hanya ada dengan mengorbankan orang lain?

Di mana letak kebahagiaan, ketika tingkat depresi dan penyakit mental lainnya melonjak, dan hari kerja menjadi lebih lama?

Selama dua dekade terakhir, pekerja di Amerika Serikat telah bekerja lebih lama dan lebih lama.

Survei Gallup pada 2020 menemukan bahwa 44% karyawan penuh waktu bekerja lebih dari 45 jam seminggu, sementara 17% orang bekerja 60 jam atau lebih setiap minggu.

Hasil dari budaya kerja berlebihan ini adalah bahwa kebahagiaan dan kesuksesan benar-benar tampak seperti persamaan zero-sum juga.

Ada biayanya, seringkali manusia, dengan pekerjaan dan keluarga bermain tarik ulur waktu dan perhatian, di mana kebahagiaan pribadi selalu menjadi korban.

Ini sudah terjadi jauh sebelum pandemi Covid-19.

Studi tentang kebahagiaan tampaknya menjadi lebih populer selama adanya tekanan sosial yang tinggi.

Barangkali bukan kebetulan bahwa studi kebahagiaan yang paling lama berjalan, yang dilakukan oleh Universitas Harvard, berasal dari masa Depresi Hebat (Great Depression).

Pada 1938, sekelompok peneliti mengukur kesehatan fisik dan mental dari 268 siswa, melacak orang-orang ini serta beberapa keturunan mereka selama 80 tahun.

Apa temuan utama mereka? "Hubungan dekat, lebih dari uang atau ketenaran … membuat orang bahagia sepanjang hidup mereka."

Ini termasuk pernikahan dan keluarga yang bahagia, dan komunitas dekat dari teman-teman yang memberikan dukungan.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini