Di Desa Mtauchira, Malawi selatan, enam pria membawa peti mati menyusuri jalan tanah yang telah berubah menjadi sungai, terpeleset dalam lumpur saat hujan terus turun.
Yang lainnya berdiri di kuburan yang baru digali yang telah terisi seperti kolam, menyedot air dengan ember agar bisa diturunkan ke dalam peti mati. Di dekatnya, kerabat almarhum menangis dan berpelukan, beberapa memegang payung sementara yang lain basah kuyup.
Presiden Malawi Lazarus Chakwera telah mengumumkan 14 hari berkabung nasional dan menyerukan dukungan internasional untuk upaya bantuan. Dia mengatakan lebih dari 80.000 orang mengungsi.
Sementara listrik mulai mengalir kembali di Malawi pada Kamis, (16/3/2023) banyak tempat yang terkena dampak badai tidak memiliki aliran air selama seminggu, termasuk di kota terbesar kedua, Blantyre.
(Rahman Asmardika)