Para pimpinan PKI juga memperlihatkan tabiat sebagai warga kota. Kebiasaan hidup borjuis di kota diperlihatkan di Blitar Selatan. Meskipun tinggal di desa-desa, beberapa kader masih ingin memperoleh makanan dan rokok dari kota.
Melalui kurir-kurir, mereka membeli barang-barang keperluan dari kota. Seperti rokok Gudang Garam, Bentoel, Djie Sam Soe dan kacang Lip Lip Hiong.
Tanpa disadari, sampah-sampah bungkusan makanan dan barang-barang dari kota itu menarik perhatian para petugas keamanan negara. Dari penyelidikan diketahui bahwa barang-barang itu tidak mungkin milik warga desa.
"Ini mempermudah pasukan penumpas untuk mengetahui di mana para tokoh PKI bersembunyi dan di mana basis koordinasi gerakan bersenjata dilakukan," tulis Siauw Giok Tjhan.
Gerakan PKI di Blitar Selatan tidak berumur panjang. Penduduk yang semula menaruh hormat, berubah tidak simpatik setelah PKI melakukan aksi perampokan. Apalagi yang semula menyasar orang-orang kaya, kemudian meluas ke siapa saja.