Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pekikan Merdeka Pertama di Tepi Sungai Citarum

Awaludin , Jurnalis-Sabtu, 19 Agustus 2023 |06:01 WIB
 Kisah Pekikan Merdeka Pertama di Tepi Sungai Citarum
Tugu Kebulatan Tekad di tepi Sungai Citarum (foto: dok Okezone)
A
A
A

KEMERDEKAAN Republik Indonesia sudah dimasuki pada 17 Agustus 1945. Bendera merah putih berkibar di mana-mana dan teriakan “Merdeka!” dilantangkan setiap memperingati HUT kemerdekaan Republik Indonesia saat ini, 78 tahun lalu.

Tapi tahukah, teks proklamasi yang dibacakan Soekarno di Pegangsaan Timur pada 17 Agustus 1945 itu, bukanlah momen pertama merah putih dikibarkan dan teriakan merdeka dikumandangkan?

Ternyata, pernyataan Indonesia merdeka sudah dilakukan oleh segelintir pemuda dan tentara PETA (Pembela Tanah Air), di suatu tangsi PETA di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Lokasi itu saat ini sudah menjadi tugu atau monumen “Kebulatan Tekad”, tepatnya di tepi Sungai Citarum, Desa Kalijaya, Karawang.

Penggiat sejarah E. Ganda Permana pun memperkuat hal itu, dengan mengutip buku 'Tentara PETA: Mengawal Proklamasi 17 Agustus 1945 Mulai dari Rengasdengklok' karya Pamoe Rahardjo dan buku 'Rengasdengklok: Revolusi dan Peristiwa 19 Agustus 1945' karya Her Suganda.

“Ada suatu peristiwa yang terlupakan, bahwa pernyataan Indonesia merdeka pertama kali dikumandangkan tanggal 16 Agustus 1945, antara jam 10.00-10.30 WIB, lewat pernyataan kepada masyarakat Rengasdengklok, upacara penurunan (bendera Jepang) Hinomaru dan pengibaran bendera Merah Putih oleh anggota Seinendan, serta diakhiri pekik ‘Merdeka!’,” papar Ganda.

Upacara itu dipimpin ‘Soncho’ (Camat) Rengasdengklok, Soejono, dengan diawali usulan perwira PETA, dr. Soetjipto dan Singgih.

“Pernyataan itu reaksi spontan dan euforia pemuda yang dimotori Sukarni, serta diramaikan semangat tentara PETA di Rengasdengklok,” tambahnya.Mereka ingin merebut dan menyatakan kemerdekaan ketika kondisi Indonesia tengah vakum (usai Jepang menyerah pada sekutu),” tambah aktivis sejarah Historia van Bandoeng tersebut.

“Tapi Soekarno dan Mohammad Hatta keukeuh pegang janji Jepang ketika di Da Lat (Vietnam Selatan usai bertemu Marsekal Terauchi), maupun di sidang Chuo Sangi In,” pungkasnya.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement