Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sejarah dan Asal Usul Rawamangun, Dulunya Hutan Lebat yang Disertai Rawa-rawa

Rina Anggraeni , Jurnalis-Selasa, 05 Desember 2023 |07:02 WIB
Sejarah dan Asal Usul Rawamangun, Dulunya Hutan Lebat yang Disertai Rawa-rawa
Ilustrasi asal usul Rawamangun (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Sejarah dan asal usul Rawamangun, dulunya hutan lebat yang disertai rawa-rawa. Lantaran beberapa nama tersebut ada yang diambil dari nama gedung bersejarah, kelompok penduduk asli, bahkan istilah unik lain yang dipakai di masa lalu.

Salah satunya Rawamangun yang merupakan masuk wilayah DKI Jakarta ini memiliki beberapa kelurahan seperti Pulo Gadung hingga Jatinegara dan Cipinang.

Adapun sejarah dan asal usul Rawamangun dulunya hutan lebat yang disertai rawa-rawa sebelum masih dijajah oleh Belanda dan Jepang.

Hal itu terlihat dikarenakan beberapa penduduk yang masih sedikit tinggal di Rawamangun ternyata sangat dekat dengan rawa-rawa. Apalagi wilayah yang didirikan dekat rawa itu disebut kampong Rawamangoen.

Secara teoritis, dalam hal ini, nama rawa lebih dahulu disebut Rawamangoen baru kemudian muncul nama perkampungan Rawamangoen.

Saat tahun 1687 didirikan benteng Fort Padjadjaran ini digunakan oleh VOC/Belanda mulai merintis jalan (jalur) perdagangan ke hulu sungai Tjiiwong (sungai Jacatra), hulu sungai Tjilengsi (sungai Bekasi) dan hulu sungai Cisadane (sungai Tangerang). Tiga jalan (jalur) kuno ini kemudian ditingkatkan menjadi dua jalur perdagangan utama menuju kota (stad) Batavia.

Jalur utama ini adalah, jalan sisi timur sungai Ciliwung dan sungai Tjipinang melalui Bidara Tjina (Meester Cornelis), Matraman, Salemba dan Kramat, Jalan sisi barat sungai Ciliwung melalui Depok, Tanjung Barat, Kalibata, Menteng dan Cikini.

Apalagi beberapa penjajahan membangun beberapa kanal agar tidak membuat banjir wilayah Batavia yang saat ini dinamai Jakarta.

Untuk itu kanal terusan ini menuju kanal Soenter sungai Tjiliwung di Kwitang disodet melalui jalan Kwitang yang sekarang. Area rawa-rawa di sisi timur kanal terusan ini sebagian mulai mengering terutama di area Rawabangke, Pisangan dan Oetan Kayu.

Kanal ini tidak hanya berfungsi untuk aliran air bersih dari hulu tetapi berfungsi menjadi fungsi drainase. Inilah yang menyebabkan area wilayah Rawabangke dan Rawamangoen semakin mengecil.

Area Rawamangun yang dulu sangat luas semakin menyusut karena wilayah-wilayah kering karena drainase telah terbentuk area baru tempat hunian baru (yang tidak lagi masuk wilayah/area Rawamangoen (seperti area Tjipinang di sisi utara jalan sekunder dan area Solitude/Palmeriam di sisi timur kanal terusan).

Dengan semakin ramainya dari Senen ke Pulo Gadung melalui kampong Rawamangoen, celakanya dimana terdapat kampong Rawamangoen telah dibentuk (diidentifikasi sebagai) area dengan nama Kayu Putih.

Sementara sisa area Rawamangoen tetap disebut Rawamangoen. Nama kampung Rawamangoen lambat laun lenyap dan yang muncul ke permukaan adalah naman area/kawasan Rawamangoen. Sisa area/kawasan yang tempo dulu sangat luas hanya (tinggal) sebatas kelurahan Rawamangun yang sekarang.

(Rina Anggraeni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement