Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Kelahiran Soeharto dan Harapan Sang Ayah yang Melampaui Kenyataan

Ricko Setya Bayu Pradana Junior , Jurnalis-Sabtu, 08 Juni 2024 |05:30 WIB
Kisah Kelahiran Soeharto dan Harapan Sang Ayah yang Melampaui Kenyataan
Soeharto (Foto: AFP)
A
A
A

SOEHARTO lahir di Dusun Kemusuk, Argomulyo, Desa Godean, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921. Kisah kelahiran Presiden ke-2 RI itu diceritakan dalam buku 'Anak Desa, Biografi Presiden Soeharto', karya O.G Roeder.

Buku tersebut menjelaskan kisah jelang kelahiran Soeharto. Kertosudiro yang merupakan ayah dari Soeharto yang tengah memeriksa empang di area persawahan Pak Kerto, sering disapa oleh seorang ulu-ulu atau jogotirto, yakni seorang perangkat desa yang mengurus pembagian air dan pengairan sawah.

Saat itu iya diberitahu bahwa istrinya sudah siap untuk melahirkan. Kerto pun langsung bergegas menuju rumahnya yang saat itu juga sudah ramai dipenuhi orang-orang. Setibanya di depan pintu, kerto langsung disambut oleh istri Kromodiryo.

“Wajahnya yang berseri-seri menandakan kegembiraan dan kepuasan hatinya. Ia baru saja menolong isteri keponakannya melahirkan seorang anak laki-laki,” tulis O.G Roeder.

Kromodiryo sendiri adalah pamannya, yakni adik kandung Kertoirono, ayahnya. Kebetulan istri Kromodiryo dikenal sebagai dukun beranak. Di Dusun Kemusuk, masyarakat akrab memanggilnya Mbah Pomo atau Mbah Genduk.

Pada saat itu juga pak Kerto sangat gembira dan bergegas menuju ke sebelah Sukirah, istrinya yang melahirkan. Meskipun tidak ia tampakkan secara berlebihan, sudah lama ia memohon kepada Tuhan agar dianugerahi anak laki-laki, dan doanya dikabulkan.

“Saya senang kita mendapat anak laki-laki, Mas,“ kata istrinya kepada Kertosudiro. “Sayapun tahu, pintamu berlaku,” tambahnya.

Sebelumnya, Kertosudiro berstatus duda saat menikahi Sukirah. Ia memiliki nama lahir Wagiyo, namun di Kemusuk akrab dipanggil Panjang

Pada pernikahan pertamanya, namanya diubah menjadi Kertorejo. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Namun, pernikahan tersebut tidak berlangsung lama dan berakhir dengan perceraian. Setelah bercerai, Kertorejo mengubah namanya menjadi Kertosudiro ketika menikahi Sukirah yang masih lajang.

Pak Kerto sangat senang mendapati bayi laki-lakinya yang sehat dan kuat seperti bayi-bayi di kampung Kemusuk.

“Ya, saya selalu mengharapkan anak laki-laki. Tuhan mengabulkan permintaan kita. Kita mesti bersyukur kepadaNya, dan seminggu lagi kita adakan selamatan untuk memberi nama," ucapnya.

Dikampungnya, pak Kerto dikenal sebagai seorang yang sederhana dengan penampilan njawani yang selalu mengenakan baju adat dengan kain panjang dan belangkon.

Secara ekonomi Kertosudiro bukan termasuk kalangan berada. Ia tidak memiliki tanah. Sawah seluas kurang dari satu hektar yang dikerjakan, merupakan sawah bengkok dari jabatannya sebagai ulu-ulu.

Karena tak mampu membeli kerbau, Kertosudiro menggarap sawahnya dengan cara mencangkulinya sendiri. Kendati demikian, kelahiran bayi laki-laki harus dirayakan dengan meriah.

Tepat seminggu setelah kelahiran putranya, Kertosudiro mengadakan acara selamatan. Ia mengundang semua saudara, sanak kerabat, dan tetangga untuk berkumpul dan makan bersama.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement