Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Geger! Seni Cadas Tertua di Bumi Ditemukan di Sulawesi, Usianya Hampir 68 Ribu Tahun

Awaludin , Jurnalis-Kamis, 22 Januari 2026 |08:12 WIB
Geger! Seni Cadas Tertua di Bumi Ditemukan di Sulawesi, Usianya Hampir 68 Ribu Tahun
Seni cadas tertua di dunia berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun (Foto: Reuters)
A
A
A

JAKARTA - Tim peneliti kolaborasi internasional dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University, dan Southern Cross University (Australia) menemukan seni cadas tertua yang pernah diketahui, berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Temuan spektakuler ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature melalui artikel berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”. Penemuan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik dan migrasi manusia modern di dunia.

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, mengungkapkan bahwa usia seni cadas di Pulau Muna ini 16,6 ribu tahun lebih tua dibandingkan seni cadas terkenal dari Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan. Bahkan, temuan ini 1.100 tahun lebih tua dari cap tangan gua di Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan selama ini dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.

“Ini adalah seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal,” kata Adhi, seperti dilansir dari brin.go.id, Kamis (22/1/2026).

Teknologi Laser Ungkap Usia Purba

Untuk menentukan usia lukisan tersebut, para peneliti menggunakan teknologi mutakhir laser-ablation uranium-series (LA–U-series). Metode ini menganalisis lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi pigmen lukisan gua.

Hasilnya menunjukkan usia 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang berarti cap tangan tersebut dibuat setidaknya 67.800 tahun lalu. Penanggalan ini memberikan bukti langsung dan sangat presisi atas aktivitas simbolik manusia modern pada masa Pleistosen.

 

Bukti Awal Penjelajahan Laut Manusia

Penemuan ini tidak hanya penting bagi sejarah seni, tetapi juga bagi pemahaman tentang migrasi manusia modern. Keberadaan seni cadas berusia hampir 70.000 tahun di Pulau Muna menjadi bukti bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak masa yang sangat awal.

“Temuan ini menunjukkan bahwa Wallacea bukan sekadar jalur transit menuju Australia, melainkan ruang hidup utama bagi manusia modern awal,” ujar Adhi.

Para peneliti meyakini bahwa pembuat seni cadas ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar ke timur dan akhirnya mencapai daratan Sahul (Australia–Papua).

Menguatkan Jejak Leluhur Aborigin Australia

Temuan ini memperkuat model kronologi panjang yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai Sahul setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.

“Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu,” jelas Adhi.

Prof Renaud Joannes-Boyau menambahkan bahwa penanggalan seni cadas di Sulawesi ini merupakan bukti paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, wilayah yang hingga kini masih minim penelitian arkeologis.

 

Cap Tangan ‘Bercakar’ yang Unik di Dunia

Keunikan lain dari seni cadas Pulau Muna adalah bentuk cap tangan yang memiliki jari-jari menyempit menyerupai cakar (narrow finger)—ciri yang sangat jarang ditemukan secara global.

Prof Adam Brumm dari Griffith University menyebut modifikasi ini mencerminkan ekspresi simbolik yang sudah matang.

“Maknanya masih spekulatif, tetapi bisa jadi melambangkan hubungan erat antara manusia dan hewan. Tema ini juga muncul dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk figur makhluk setengah manusia dan setengah hewan,” jelasnya.

 

Sulawesi, Pusat Budaya Artistik Tertua Dunia

Menurut Prof Maxime Aubert, temuan ini menegaskan posisi Sulawesi sebagai salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia.

“Akar tradisi seni ini berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN, Sofwan Noewidi, menekankan pentingnya pendekatan arkeologi berbasis sains material.

“Lapisan kalsit berfungsi sebagai arsip mikrostratigrafi alami, memungkinkan penentuan batas usia minimum yang sangat andal bagi aktivitas simbolik manusia modern,” jelasnya.

Dengan semakin banyaknya situs seni cadas Pleistosen yang ditemukan di kawasan karst Sulawesi, para peneliti menyerukan perlindungan serius terhadap warisan budaya tak tergantikan ini. Perlindungan situs purba diharapkan menjadi bagian integral dari kebijakan tata ruang dan pengelolaan sumber daya alam.

Penelitian ini melibatkan berbagai institusi, termasuk Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta mitra internasional dari Australia.

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement