Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

BMKG Ikut Pantau Hilal Lebaran di 37 Titik Hari Ini, Peluang Terlihatnya Kecil?

Binti Mufarida , Jurnalis-Kamis, 19 Maret 2026 |00:08 WIB
BMKG Ikut Pantau Hilal Lebaran di 37 Titik Hari Ini, Peluang Terlihatnya Kecil?
Pemantauan hilal (Foto: Dok Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan melakukan pemantauan hilal di 37 titik yang tersebar di seluruh Indonesia pada Kamis (19/3/2026). Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari proses penentuan awal 1 Syawal 1447 Hijriah.

Pengamatan hilal tersebut menggunakan teropong khusus milik BMKG dan menjadi salah satu referensi penting dalam pelaksanaan sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag).

"BMKG akan melakukan pengamatan hilal menggunakan teropong hilal BMKG di 37 titik di seluruh wilayah Indonesia tanggal 19 Maret 2026," tulis BMKG lewat akun media sosial Instagram resminya, Rabu 18 Maret 2026.

BMKG menjelaskan informasi terkait posisi hilal yang mereka sampaikan berfungsi sebagai panduan bagi para pelaksana rukyatul hilal di lapangan. Selain itu, data hasil perhitungan (hisab) dan observasi langsung akan dilaporkan dalam sidang isbat sebagai bahan pertimbangan penentuan resmi jatuhnya Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

"Informasi hilal yang disampaikan BMKG merupakan panduan bagi para pelaksana pengamatan hilal," tulisnya.

Berdasarkan data hisab, ketinggian hilal pada 19 Maret 2026 telah memenuhi kriteria yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Namun, nilai elongasi hilal masih berada di bawah ambang batas kriteria tersebut, sehingga peluang hilal untuk dapat teramati dinilai masih kecil.

"Ketinggian hilal sudah memenuhi kriteria MABIMS, namun elongasi masih di bawah kriteria MABIMS sehingga potensi teramatinya hilal juga kecil," ujarnya.

BMKG pun menegaskan tidak memiliki kewenangan dalam menetapkan awal bulan Hijriah. Keputusan resmi mengenai Hari Raya Idulfitri tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan diumumkan oleh pemerintah.

Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal. Di sisi lain, Nahdlatul Ulama (NU) bersama pemerintah dan organisasi Islam lainnya masih menanti hasil rukyatul hilal sebagai dasar penentuan resmi.

Hasil sidang isbat nantinya akan menjadi acuan nasional dalam menetapkan awal Syawal 1447 Hijriah, sekaligus menjawab potensi perbedaan penetapan yang muncul akibat perbedaan metode yang digunakan berbagai pihak.

"Keputusan resmi menunggu hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. BMKG tidak memberikan pernyataan terkait penentuan Syawal 1447 H sebelum ada pengumuman dari Kementerian Agama," pungkasnya.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement