ST PETERSBURG – Setidaknya satu orang tewas dan lima lainnya terluka setelah Ukraina meluncurkan lebih dari 1.000 pesawat nirawak drone) ke Rusia. Ini merupakan salah satu serangan udara terbesar yang dilakukan Kyiv selama perang berlangsung.
Gubernur St. Petersburg, Alexander Beglov, mengatakan bahwa petugas pemadam kebakaran tengah berupaya memadamkan api yang dipicu oleh serangan Minggu (18/10/2026) terhadap terminal minyak St. Petersburg, depot minyak Ruchi, serta sejumlah gudang industri di distrik Kolpinsky, di sebelah selatan kota tersebut.
Beglov mengatakan serangan “besar-besaran” tersebut menewaskan setidaknya satu orang dan melukai lima lainnya, serta menghantam sejumlah bangunan tempat tinggal dan dua rumah.
Serangan itu mengganggu penerbangan di bandara utama St. Petersburg—salah satu bandara tersibuk di negara tersebut—yang kemudian membatasi operasionalnya “demi alasan keamanan,” ujar Beglov.
Perusahaan e-commerce Rusia, Ozon, melaporkan terjadinya kebakaran di pusat logistik mereka di St. Petersburg. Perusahaan internet VK menyatakan bahwa pusat datanya di wilayah Leningrad yang lebih luas diserang oleh drone, seraya menambahkan bahwa layanan bagi pengguna tetap berjalan normal.
Gubernur Leningrad, Alexander Drozdenko, mengatakan 145 pesawat nirawak telah ditembak jatuh, dan sekitar 20.000 orang mengalami pemadaman listrik akibat serangan tersebut.
Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa 1.015 drone Ukraina telah dilumpuhkan dalam semalam di atas 15 wilayah Rusia, Semenanjung Krimea, serta Laut Hitam, demikian dilansir Al Jazeera.
Serangan-serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Kyiv dan Washington, dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia.
Pada 11 Oktober, Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati “gencatan senjata energi”, namun ia tidak memberikan perincian lebih lanjut. Beberapa hari kemudian, Presiden Ukraina Zelensky menyatakan kepada Financial Times bahwa ia “sudah selesai” dengan gencatan senjata tersebut, setelah sebelumnya menahan diri untuk tidak menyerang fasilitas energi Rusia, sementara Moskow justru terus melancarkan serangan terhadap fasilitas energi Ukraina.
Pada Minggu, Zelensky menulis di platform X bahwa Rusia telah menyerang sektor energi, minyak, dan gas Ukraina sebanyak 76 kali dalam kurun waktu satu minggu sejak pengumuman Trump tersebut.
Ia menyebutkan bahwa fasilitas energi di empat wilayah Ukraina diserang dalam semalam, yang menyebabkan puluhan ribu keluarga kehilangan akses listrik. Ia menuduh Rusia berupaya untuk “menyebabkan pemadaman listrik total”.
Sementara itu, serangan udara Rusia menewaskan seorang perempuan di ibu kota Ukraina, Kyiv, pada malam hari, sekaligus menghantam sebuah stasiun kereta bawah tanah dan merusak sebuah gedung hunian 25 lantai, ungkap Wali Kota Vitali Klitschko melalui Telegram pada hari Senin.
Serangan tersebut, yang juga menghantam bangunan nonhunian serta fasilitas medis, melukai tiga orang lainnya di Kyiv, ujar Klitschko.
Dua serangan Rusia terhadap kota Zaporizhzhia di Ukraina selatan menewaskan seorang wanita dan melukai setidaknya dua orang lainnya, termasuk seorang anak perempuan berusia enam tahun, ungkap pejabat setempat pada Minggu.
Dalam unggahan lain di platform X pada Minggu, Zelensky menyatakan bahwa serangan Rusia terhadap bangunan tempat tinggal di wilayah Volyn telah menewaskan dua orang dan melukai 12 orang lainnya, termasuk dua anak-anak.
“Pagi ini, terjadi serangan terhadap sebuah perusahaan pertanian di Volyn. Semua layanan terkait telah dikerahkan ke lokasi kejadian,” ujarnya.
“Secara keseluruhan, selama sepekan terakhir, Rusia telah menyerang Ukraina dengan hampir 2.700 drone serang, 1.700 bom udara, dan 66 rudal—yang sebagian besar merupakan rudal balistik,” tulis Zelensky.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.