JAKARTA - Meski DPRD DKI Jakarta pernah mengatakan biaya untuk rehab berat gedung sekolah sudah diturunkan ke suku dinas pendidikan, namun hingga kini belum terealisasi. Seperti halnya terlihat di SD Kramat Jati 22, pihak sekolah sering mengeluarkan dana dari BOP dan BOS untuk menangani kerusakan ringan seperti mengganti kusen dan lain-lain.
"Dari BOP itu kita dapat Rp50 ribu per siswa per bulan. Sedangkan dari BOS dapat Rp135 ribu persemester. Jadi kalau seandainya uang BOS dan BOP sering digunakan untuk rehab, dana operasional lainnya dari mana," kata Kepala Sekolah SD 22 Pagi Kramatjati, Jakarta Timur, Suharno ketika ditemui okezone, Rabu (27/2/2008).
Karena itu, lanjut Suharno, sekolah tidak mampu lagi untuk menanggung biaya perawatan sekolah yang seharusnya sudah direhab. Dia berharap, gedung sekolah ini tidak hanya direhab berat, namun juga direhab total. "Karena was-was, saya takut karena kondisi cuaca saat ini sering hujan, kegiatan belajar terganggu dengan kondisi bocor dan lain-lain," keluhnya.
Sebelumnya Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Igo Ilham kemarin mengatakan jika dana rehab besar gedung sekolah di Jakarta sudah dicairkan. Namun pengajuan proposal yang diajukan Dikdas untuk rehab total saat ini cuma untuk 20 sekolah, baik SD-SMP.
"Pada prinsipnya kita setujui. Hanya saja dari 20 yang diusulkan, sebanyak 10 gedung drop dananya kita alihkan untuk perbaikan 100 gedung rusak berat," jelasnya.
Berdasarkan data dari Dikdas, lanjutnya, ada 437 gedung yang harus direhab total, baik rusak maupun kena banjir atau bangunannya tidak sesuai dengan gedung modern. "Setiap satu gedung yang direhab total, dananya bisa mendanai 10 gedung yang direhab berat," pungkas politisi PKS ini.
(ahm)