BANDA ACEH - Merebaknya isu telepon santet semakin meresahkan masyarakat. Bahkan seorang wanita asal Kabupaten Bireun harus dirujuk ke rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh, setelah menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal.
Korban adalah Ferawati (18), asal desa Jangka keutapang Bireun, yang masih tercatat sebagai siswa kelas 3 di salah satu SMU di Bireun. Saat ditemui ruang Unit Gawat Darurat UGD-RSUZA, Jumat (9/5/2008), Ferawati masih dalam kondisi lemah.
Paman korban, Helmi, menyebutkan, menurut keterangan teman-teman korban, keponakannya itu jatuh pingsan setelah menerima telepon dari nomor yang tidak ia kenali. Fera seperti kesetrum saat mengangkat telepon tersebut.
"Kawan-kawannya bilang, dia mengaku seperti kesetrum saat mengangkat telpon itu, jadi mereka mengira Fera disantet seperti isu yang beredar beberapa hari ini, kemudian setelah itu si Fera langsung pingsan," ungkap Helmi.
Pihak keluarga akhirnya membawa korban kerumah sakit dr Fauziah Bireun. Namun karena keterbatasan sarana pemeriksaan, pihak rumah sakit merujuk Ferawati ke RSUZA Banda Aceh.
Wakil direktur RSUZA, dr Andalas SPoG, mengatakan, berdasarkan diagnosa yang dilakukan pihak rumah sakit, Ferawati dalam kondisi sehat. Menurutnya Fera hanya mengalami trauma dan stres setelah mendengar isu tentang telpon santet tersebut.
"Dalam pemeriksaan medis, kondisi kesehatan Fera dalam keadaan normal. Mungkin dia sedikit stres setelah mengikuti ujian nasional, ditambah lagi dengan beredarnya isu telepon santet yang tidak benar itu," paparnya.
Ia juga berharap, masyarakat tidak mempercayai isu yang beredar tersebut. Menurutnya secara medis sangat kecil kemungkinan bahwa radiasi dari telpon gengam dapat mengakibatkan kematian pada pengunanya.
"Kemungkinan itu ada, tapi dalam kasus ini, memang korban tidak mengalami ganguan kesehatan apapun, ia sehat, dia cuma mengalami stres setelah ujian dan mendengar isu itu," jelas Andalas.
(pie)