GONJANG-ganjing ekonomi global yang dipicu krisis moneter di Amerika Serikat (AS) menghantui seluruh negara di dunia, tak terkecuali Indonesia.
Anomali pasar global yang terjadi juga memukul kondisi pasar keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bahkan untuk mengantisipasi dampak yang lebih parah, pada 8 Oktober hingga 13 Oktober, BEI terpaksa melakukan suspension (penghentian transaksi sementara).
Suspensi perdagangan pada 8 Oktober pukul 11.06 WIB (8/10/2008) itu dilakukan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam sebesar 168,052 poin menjadi 1.451,669. Ditambah lagi indeks LQ45 (saham yang mempunyai kapitalisasi besar) terkoreksi 38,261 atau 11,86 persen ke posisi 284,236.
Penurunan IHSG ini sebagai runtutan kondisi bursa global regional, setelah sehari sebelumnya the Fed (bank sentral AS) tidak mampu meyakinkan para investor. Efeknya, krisis pada hari itu membuat indeks Dow Jones melorot 5,11 persen atau 508,38 poin menjadi 9.447,11.
Anjloknya bursa AS ini langsung berdampak terhadap bursa regional. Indeks Hang Seng (Hong Kong) terkoreksi 944,21 poin (5,62 persen) ke level 15.854,17. Bursa Tokyo pun setali tiga uang, di mana indeks Nikkei 225 turun 584,35 poin (5,75 persen) ke level 9.571,54.
Kondisi serupa juga dialami bursa Singapura dengan anjloknya indeks Straits Times 108,17 poin (4,97 persen) ke 2.069,37. Melihat penurunan IHSG lebih dari 10 persen dalam sesi perdagangan I pada Rabu pekan lalu itu, membuat pemangku otoritas pasar modal langsung menghentikan transaksi perdagangan.
Suspensi yang dilakukan BEI bertujuan untuk mencegah IHSG terkoreksi semakin dalam. Selain itu, suspensi perdagangan BEI dilakukan untuk memberi waktu kepada pelaku pasar agar kembali pada suasana yang lebih wajar dalam melihat kondisi tiap emiten.
Menurut Menteri Keuangan yang juga menjabat Menteri Koordinator Perekonomian Sri Mulyani, lewat suspensi ini pemerintah berharap agar para investor akan lebih memahami pembentukan harga saham yang dianggap mencerminkan nilai yang wajar.
Sebab, pemerintah melihat adanya panic selling saat terjadi anomali pasar keuangan. Kondisi pasar yang tidak menentu inilah yang kemudian dimanfaatkan segelintir pihak untuk mengambil kesempatan di tengah kondisi yang sangat rapuh.
Saat itu pemerintah menengarai kemungkinan adanya transaksi terlarang seperti short selling, yang dipicu adanya rumor di pasaran tentang terjadinya default terhadap penyelesaian transaksi Repurchase Agreement di Grup Bakrie.
Repurchase Agreement merupakan perjanjian dengan seorang peminjam, di mana mereka menjual sekuritas dengan komitmen membeli lagi sekuritas tersebut dengan harga yang sama dan dengan tingkat suku bunga tertentu.
"Faktor ini yang menyebabkan terjadinya penurunan lebih tajam seluruh harga emiten di bursa saham kita," ungkap Sri Mulyani. Dengan adanya suspensi BEI ini, selain memberikan kesempatan bagi investor untuk mendapatkan informasi lebih jelas tentang kondisi bursa, otoritas pasar modal berharap bisa mengeluarkan para spekulan yang ingin memanfaatkan kepanikan.
Pemerintah awalnya hanya menutup transaksi dalam waktu dua hari saja, tapi karena kondisi pasar uang belum stabil pada Jumat (10/10/2008), otoritas pasar modal terpaksa kembali menutup seluruh transaksi BEI. Potensi anjloknya IHSG BEI pada transaksi Jumat terlihat setelah investor asing memberi sinyal keluar dari BEI.
Apalagi sekitar 60 persen portofolio saham pasar modal Indonesia berada dalam penguasaan asing sehingga hengkangnya modal asing diperkirakan akan merontokkan IHSG dalam sekejap. Oleh karena itu, setelah BEI dibuka beberapa saat, pihak otoritas pasar bursa akhirnya memutuskan untuk memperpanjang suspensi.
Bahkan saat pasar modal kembali dibuka Senin (13/10/2008), harga IHSG masih belum bisa tertolong. Pembukaan perdagangan Senin, IHSG tetap anjlok 62,855 poin (4,32 persen) ke level 1.388,814 dari sebelumnya di level 1.451,669. IHSG bahkan sempat anjlok 92,919 (6,14 persen) ke level 1.358,75.
Namun, pada penutupan sesi perdagangan II, akhirnya IHSG mampu melakukan rebound sebesar 0,7 persen ke level 1.461,873. Menurut Direktur Utama BEI Erry Firmansyah, kenaikan indeks IHSG pada hari pertama pascasuspensi, selain dipengaruhi berbagai kebijakan pemerintah juga dipengaruhi kondisi pasar global.
"Semua kembali ke situasi global. Oleh karena itu kami berharap dalam waktu dekat situasi global akan segera membaik. Kami ingin melangkah seirama dengan pasar lainnya," ungkapnya. Selain menutup seluruh transaksi selama beberapa hari, untuk memperbaiki performa IHSG di pasaran, pemerintah merumuskan berbagai kebijakan.
Salah satunya dengan rencana buy back saham-saham BUMN yang ada di pasaran. Buy back ini dilakukan selain untuk memproteksi saham-saham BUMN juga bisa meningkatkan kepemilikan kembali terhadap pemerintah dengan harga rendah.
Sebab, dengan kondisi pasar yang tidak jelas, otomatis akan menurunkan nilai saham di pasaran. Jika bisa memanfaatkan momen ini, selain bisa mendongkrak kondisi bursa, BUMN juga dapat mengambil untung dari harga saham yang sudah murah.
"Yang jelas, ini momentum juga bagi BUMN untuk meraup untung di tengah masa sulit pasar modal sekaligus membangkitkan kembali bursa efek," ungkap Wakil Presiden Jusuf Kalla.
(M Budi Santosa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.