Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Derita Sekeluarga Pengidap Gizi Buruk

Solichan Arif , Jurnalis-Senin, 29 Juni 2009 |05:14 WIB
Derita Sekeluarga Pengidap Gizi Buruk
Foto: Solichan Arif/Koran SI
A
A
A

TRENGGALEK - Misjem (25),  Cemblek (16),  dan  Sulis (13), satu keluarga kakak beradik warga Desa Depok, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menderita gizi buruk sejak usia balita.

Akibat kondisi serba kekurangan tersebut, ketiga kakak adik itu  kini harus menjalani perawatan intensif di RSU dr Soedomo Trenggalek. Sebab Misjem, Cemblek, dan Sulis  menderita  berbagai penyakit (komplikasi). 

Secara fisik tinggi dan berat badan mereka jauh dari ukuran normal, meski mereka terlahir normal.  Misjem yang berusia 25 tahun hanya memiliki tinggi 121 cm. Sementara  beratnya hanya 28 kg. Sedangkan Cemblek  yang berumur 16 tahun, bobotnya hanya 16 kg dengan tinggi 107 cm.

Begitu juga dengan si  bungsi Sulis, yang hanya memiliki tinggi 117 cm dengan berat badan 22 kg. "Kekurangan asupan gizi yang membuat ketiga bersaudara ini tumbuh tidak normal, termasuk mengidab berbagai penyakit," ujar dokter RSUD Dr Soedomo, dr Agus Dahana kepada wartawan.

Sebelum diketahui mengidap gizi buruk, ketiga pasien ini mengalami berbagai keluhan sesak nafas. Setelah dicek secara medis, diketahui jika mereka menderita  Bising Jantung atau detak yang keras dan tidak beraturan.

Hal itu disebabkan kelainan katup jantung atau Kretin Endemic. Menurut Agus, selain itu ketiga pasien mengalami kekurangan zat yodium.Akibat dari itu kakak beradik ini menderita Anemia atau kurang darah serta Splenomegali atau pembesaran limpa.

"Splenomegali ini dialami pasien Misjem dan Cemblek. Namun secara umum ketiganya terkena Anemia dan Kretin Endemic atau kelainan katup jantung," paparnya.

Secara spesifik,  penyakit Anemia, Splenomegali, dan Kretin Endemic diakibatkan kondisi asam urat ketiga pasien yang tinggi. Jika tidak segera ditangani, sel otot pasien bisa pecah dan berakibat fatal. "Untuk anemianya kita akan memberikan  transfusi darah," terangnya.

Sedangkan Splenomegali atau pembesaran limpa, pihak rumah sakit dr Soedomo Trenggalek hanya bisa memberikan rekomendasi rujukan ke Surabaya atau Malang.  Namun itu semua tergantung orang tua pasien.  "Sebab langkah pertama untuk mengetahui tingkat keparahan Splenomegali harus melalui tes laboratorium yang cukup mahal," paparnya. Pihak medis RSU dr Soedomo hanya  berusaha menyembuhkan Anemia dan Kretin Endemicnya

Sementara Ny Katijah, ibu ketiga pasien mengakui kalau selama ini keluarganya memang hidup serba kekurangan. Karenanya tidak ada biaya untuk berobat  " Jangankan berobat untuk kebutuhan hidup makan sehari-hari saja kami kesulitan. Saya pasrah dengan kondisi ini," ujar janda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani ini.

Ny Katijah menambahkan, untuk pembayaran pengobatan ketiga anaknya ini ia mengaku belum tahu uang dari mana. "Saya hanya berharap ada uluran dari pemerintah dan dermawan yang peduli dengan anak saya," pungkasnya.

(Muhammad Saifullah )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement