getting time...

DPR: UN Bagus, tapi Sayang Belum Siap

Amirul Hasan - Okezone
Minggu, 29 November 2009 09:15 wib

JAKARTA - Keputusan Mahkamah Agung atas penyelenggaraan Ujian Nasional terus menuai kontroversi. Ibarat buah simalakama, diterapkan salah tidak dilaksanakan pun menjadi masalah. Di negara-negara lain Ujian Nasional dipakai untuk mengukur standar mutu pendidikan.

Bedanya, di negara-negara yang menerapkan UN, sarana penunjang pendidikan yang ada bagi setiap sekolah memiliki kualitas yang kurang lebih sama. "Tidak adil kalau semua sekolah disamaratakan, antara sekolah di desa dan di kota," ungkap anggota Komisi X DPR RI, Herlini Amran saat berbincang dengan okezone, Minggu (29/11/2009).

Menurut politisi PKS ini, UN yang diterapkan di Indonesia sebenarnya memiliki tujuan yang bagus untuk melihat standar mutu pendidikan di Indonesia. "Sayangnya belum disiapkan secara matang," tamba Herlini.

Oleh karenanya, menurut Herlini, saat ini belum tepat kalau UN dijadikan satu-satunya standar untuk menentukan kelulusan siswa. Ketika pemerintah sudah mampu meningkatkan kualitas pendidik dan memberikan sarana yang penunjang pendidikan di semua daerah barulah UN bisa diterapkan.

Solusinya, tambah anggota dari Dapil Kepri ini adalah dinas pendidikan provinsi, dan sekolah juga diberi hak untuk membuat soal ujian.

"Tentu dengan pengawasan orang yang ahli," tambahnya. Selain itu, dana APBN yang mencapai Rp200-an triliun ini jangan sampai bocor sehingga fasilitas pendidikan bisa merata di setiap daerah.
"Kalau tidak punya standar susah juga kita karena mutu tidak bisa diukur," pungkasnya.(bul) (mir)

(hri)

  • Ratu M » 0 Tanggapan
    UN tetap harus diadakan, toh ada SKL sebagai pedoman dalam bimbingan belajar siswa sehingga semua mau berusaha dan bersaing
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Marsel Udak » 0 Tanggapan
    saya sepakat dengan ibu herlini. Harus ada standar secara nasional, kalau tidak outputnya boleh 100 %, tapi mutunya 0% tidak ada gunanya. Kita harus tetap membiarkan persaingan sehat ini. sehingga baik guru maupun siswa dapat mengukur kwalitasnya. Siswa dan guru harus tetap bekerja keras untuk meningkatkan mutu, baik perorangan maupun kelembagaan. UN HARUS TETAP ADA. Yang perlu dilakukan adalah model pelaksanaannya yang dipertimbangkan kembali. Kita jangan jadi bangsa berkuantitas besar, tapi kwalitasnya jauh dibawah. Kami dipedalaman saja masih ada yang lulus, walaupun prosentasenya kecil. Masa siswa/siswa di Jakarta "kalah sebelum bertanding". Depdiknas maju terus, pantang mundur. Terima kasih
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.