tragedi sukhoi

Indonesia Digunduli 3:0 oleh Malaysia

K. Yudha Wirakusuma - Okezone
Kamis, 9 September 2010 02:00 wib

JAKARTA- Pertemuan tingkat menteri dengan Malaysia di Kinabalu pada 6 September lalu adalah bukti kekalahan diplomasi bagi Indonesia. Tak main-main, dalam sengketa terkait tapal batas, Indonesia menderita kekalahan telak 3: 0.

“Kita sudah kalah 3:0 pertama pihak Malaysia tidak mau minta maaf, walaupun secara implisit mereka mengaku salah. Kedua yaitu surat SBY yang tidak dibalas oleh Perdana Menteri Malaysia dan yang terakhir perundingan mulai dari 0 lagi,” ucap Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti saat menggelar jumpa pers di Institute Hijau, Jakarta Selatan, (8/9/2010).

Perundingan Kinabalu, lanjutnya, memang tidak tuntas dan Malaysia memang ingin membawa persoalan ini ke mahkamah internasional. "Tapi dia (Malaysia) menanam citra bukan Malaysia yang menginginkan sengketa ini dibawa ke Mahkamah Internasional," sambungnya.

Seperti diketahui, hubungan Indonesia dan Malaysia kembali memanas belakangan ini. Hal tersebut dipicu insiden penangkapan tiga petugas DKP di Bintan, Riau pada 13 Agustus lalu.

Penyelesaian sengketa dengan ‘diplomasi barter' membuat publik di Indonesia marah. Para aktivis pun lantas melampiaskan kemarahannya dengan menggelar aksi menghujat Pemerintah Malaysia dengan cara melempari Kedubes Malaysia di Jakarta dengan kotoran manusia serta aksi pembakaran bendera Malaysia.
 
Pemerintah Malaysia pun akhirnya terprovokasi dengan aksi ini. Mereka mengancam kesabarannya bisa hilang serta mempertimbangkan mengeluarkan travel advisory kepada warga negaranya yang akan berkunjung ke Indonesia. Kedua pihak lantas sepakat menyelesaikan persoalan ini di meja perundingan.

(ful)

  • shofi'in » 0 Tanggapan
    saran saya kpd pemerintah, tolong dunk masyarakat perbatasan di beri kesejahteraan, sekolah gratis, pasar, dan fasilitas lapangan kerja, biar gak lari ke malaysia menghamba malaysia dan benci pada pemerintahannya sendiri, tolong dunk, kasih anggaran yg lebih bagi daerah perbatasan, kalo gak punya duit, ya urunan... masak di jakarta gak ada orang kaya, gak ada orang dermawan, orang mengemis ke negara tetangga aja gak malu, masak minta2 di negara sendiri aja malu, tolong dunk, kali ini.... aja pak presiden dengerin jeritan rakyat jelata, jangan sampai di sumpahin rakyat jelata, ntar menyesal....
    Beri Tanggapan Laporkan
  • destroy malayshit » 0 Tanggapan
    huuh nich, sma dah pd gatel ma si malingsia yg slalu bikin ati panas, kuping panas, sma jd panas... klo memang harus perang, aku yakin kok byk anak bangsa yg rela mati demi membela negeri ini.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Rudy Manus » 0 Tanggapan
    Kedaulatan bangsa Indonesia diatas segala-galanya itu harga mati! namun sementara ini, perang dengan negara jiran ini bukanlah jalan yang terbaik, kecuali kalau dia tantang secara militer baru kita beli., apa boleh buat! Coba kita tengok kebelakang ketika Malaysia meng klaim beberapa kesenian Indonesia, yang kemudian diiklankan sebagai truly asian, Saya kira pemerintah RI harus membalasnya dengan iklan propaganda wisata juga dengan mengvisualisasi dan narasi yang singkat tapi padat tentang kesenian yang diklaim Malaysia itu. Background musik lagu Rasa Sayange, visual tari Pendet, Reog Ponorogo, tradisi Rendang, seni membatik, Angklung dlsbnya tampilakan disitu dan bilang di iklan itu bahwasanya "we are porud to be the origin of the heritages that our neighbour claims unreasonably... seperti itulah atau kata2 yang meyakinkan dunia internasional, we belong them all we are rich in cultures and traditions...Pasti Dikbudpar bisa menganggarkan khusus untuk iklan ini, pasang iklan ini di Discovery Channel, international TV broadcasters lainnya...biar dunia tahu Kita lah pemilik aslinya! Ayo Indonesia bersatu melalui propaganda budaya yang secara tidak langsung mempermalukan Malaysian ini! Kami menunggu.....!!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • jasa » 0 Tanggapan
    dari dulu juga indo selalu kalah kan
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Soekarno Muda » 0 Tanggapan
    kalau kita malu atau lapar itu karena Malaysia, itu kurang ajar !
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.