Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ditolak Rumah Sakit, Pasen Miskin Meninggal

Ibnu Saechu , Jurnalis-Rabu, 22 Desember 2010 |21:13 WIB
Ditolak Rumah Sakit, Pasen Miskin Meninggal
Ilustrasi
A
A
A

CIREBON - Akibat ditolak pihak rumah sakit dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon, saat mengajukan surat keterangan miskin (SKTM), Tati Nurhayati, seorang pasien miskin akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Informasi yang berhasil dihimpun, warga Jalan Pamitran Kota Cirebon ini, masuk ke RSUD Gunungjati Minggu 12 Desember lalu. Karena tergolong pasien tidak mampu, pasien yang diagnosa menderita Suspect Hyperthyroid ini selanjutnya mengajukan SKTM.

Karena dianggap tidak masuk kategori program live saving, pengajuan pasien keluarga miskin ini juga ditolak pihak Dinas Kesehatan. Setelah mendapat kepastian ditolak, pihak keluarga langsung menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr Kaptiningsih.

"Namun Kadinkes juga menolak dengan alasan sama, yakni tidak masuk program," kata Agus Amino, keluarga pasien, Rabu (22/12/2010).

Dikatakannya, Kadinkes Kota Cirebon, dr Kapti malah menyarankan agar pasien tidak perlu mendapat perawatan inap, tapi cukup dengan berobat jalan. Namun, selang beberapa jam kemudian, pasien meninggal dunia.

Agus Amino, yang juga aktivis warung diskusi kebangsaan ini menyayangkan meninggalnya pasien gakin akibat penolakan baik dari pihak rumah sakit maupun Dinkes.

"Selama ini alasan live saving sering digunakan menjadi alat penjegal pasien gakin. Padahal adanya live saving jelas berarti untuk menyelematkan hidup," tegas Agus.

Dikatakan, istilah live saving dalam dunia kesehatan atau kedokteran digunakan sebagai upaya penyelematan hidup dan yang lebih mengetahui kriteria live saving adalah dokter dengan diagnosa sementara maupun tetap.

"Selama ini Live saving malah sering kali dijadikan alat agar pasien gakin tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUD Gunungjati karena dinkes menolak memberikan rekomendasi fasilitas SKTM bagi pasien gakin yang akan berobat. Padahal selama ini sudah ada rujukan dari Puskesmas," kata Agus.

Agus yang juga kader PDIP Kota Cirebon tersebut menyesalkan kurangnya koordinasi antara pihak RSUD Gunungjati dengan Dinkes. Terlebih hal ini menyangkut keselamatan jiwa pasien.

(Dede Suryana)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement