tragedi sukhoi

Balada si Penyapu Istana

K. Yudha Wirakusuma - Okezone
Selasa, 17 Mei 2011 09:01 wib

JAKARTA - Siang itu terasa sangat terik. Seorang pria paruh baya melepas lelah duduk menghampiriku. Tak lama topinya pun dibuka, lalu mengipas-ngipasi wajahnya yang dipenuhi keringat.
 
"Panas ya dek," ujarnya sambil mengusap wajahnya dengan sebuah handuk yang ia keluarkan dari kantong celananya, Senin (16/5/2011). "Ia pak," jawabku.

Engkong, sapaan akrab bapak tiga anak itu telah bekerja sejak 1981 di komplek luar Istana Kepresidenan, bersama dengan tujuh kawannya. "Setiap hari saya masuk kerja jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore," ungkapnya.

Menyapu, membersihkan taman dan membuang sampah adalah pekerjaan rutin Engkong setiap harinya. Di siang hari, ia mengaku mendapatkan makan siang. "Kalau sebulannya sama piket, saya dapet gaji Rp1,3 Juta," katanya sedikit tersipu.

Dengan bangga ia mengatakan dengan gaji yang pas-pasan, dirinya mampu menyekolahkan ke tiga anaknya hingga tingkat atas. "Anak saya sudah kerja semuanya, dua bekerja sebagai administrasi di Cikarang, dan Pulo Mas," imbuhnya.

Engkong juga mengaku senang bekerja di Kompleks Istana, sebab sesekali ia dapat melihat orang-orang penting di negeri ini. "Seneng mas, bisa liat presiden, semuanya. Soeharto, Habibie, almarhum Gus Dur, Megawati, sama SBY," tuturnya.

Tak malu ia pun mengaku hanya sedikit duka yang diterima dari pekerjaannya membersihkan halaman komplek luar Istana Presiden. "Paling kalau enggak dapaet piket, gajinya jadi berkurang," tukasnya sembari bergegas mengambil sapu lidi dan meneruskan pekerjaannya.
 
Engkong hanyalah satu protret kehidupan kaum kecil yang bertahan dengan profesinya. Meski dengan gaji kecil dia tetap penuh dedikasi menjalankan rutinitasnya menjadikan wajah Ibu Kota ini tetap bersih dan indah.

Ia tidak mengeluh dengan kecilnya gaji yang diperioleh untuk bertahan di kota besar dengan biaya hidup yang tinggi. Kehidupan, jalan pikiran, dan tabiat Engkong sangat kontras dengan budaya pejabat negara yang doyan mengutil uang rakyat alias korupsi. Hidup dengan kemewahan sebagai penjahat berkerah putih.

Tapi itulah, Engkong si tukang sapu, dengan semangat yang tetap membuatnya terseyum dalam  rutinitasnya. Tontotan gratis menyaksikan orang-orang nomor satu di negara ini menjadi pelipur lara rakyat kecil ini. Mudah-mudahan para pembesar negara ini pun tidak terus umbar senyuman di antara pemandangan kefakiran rakyat.
(ram)

  • iman a.s » 0 Tanggapan
    syair lagu:...semua sudah diatur dalam hidup ini berbeda...ada bawahan ada menengah bahkan tinggi pangkatnya...agar satu sama lainnya berputar berjalan...agar roda kehidupan berputar berjalan.Indonesia kamu harus lebih maju,rawe-rawe rantas maalag-malang belok, ini masih menjadi penyakit pemimpin negeri ini.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • tkg bacot » 0 Tanggapan
    tidak seperti mereka yang mengaku wakit rakyat, hanya menuntut fasilitas dan tunjangan, mengabaikan tugas utama mereka, menjadi WAKIL RAKYAT !!!
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.