GUNUNGKIDUL- Kesalahan pada buku ajar yang diterbitkan dan diedarkan oleh Disdakmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Gunungkidul, Yogyakarta, kembali terjadi.
Kali ini, kesalahan fatal ditemukan lagi di buku referensi pendidikan agama Islam berjudul "Islam Happy Ending". Buku karangan Pinandita Nur Amalia, diketahui banyak kesalahan fatal antara ayat-ayat suci Alquran dengan terjemahannya.
Sebelumnya, kesalahan terjadi pada buku pendidikan karakter bangsa berjudul "Pancasila Dasar Negaraku, Bhineka Tunggal Ika Semangatku".
Pertama kali kesalahan ditemukan oleh pengampu pelajaran agama Islam di SD Karangrejek II, Wonosari, Senin (21/11/2011) pagi.
Kesalahan buku bersampul warna pink dengan tebal 85 halaman itu diketahui pada tiga halaman yakni halaman 8, 45, dan 79. Diduga masih terdapat kesalahan lain.
Salah seorang guru agama, Bety Dwi Irawati, menjelaskan di halaman 8 buku berlabel ISBN Nomor 978-602-8155-93-9 itu, tertulis Surat Az Zumar ayat 10. Padahal arti dan penulisan ayatnya, juga berbeda meski masih relevan dengan tema yaitu sabar.
Halaman 45, ditulis dalil surat Asy-Syuura ayat 30 yang sebenarnya mengandung arti tentang musibah, namun ditulis "Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat ", tafsiran itu seharusnya hanya berada di surat Asy-Syuura ayat 20.
Sementara di halaman 79, ditulis ayat Ad-Dukhaan ayat 91. Padahal, surat tersebut, hanya terdiri dari 59 ayat. "Memang, banyak ayat dan artinya tidak relevan, saya kira ada kesalahan ketik," katanya kepada wartawan.
Dihubungi terpisah, Kepala Disdikpora Gunungkidul, Sudodo, mengaku tidak terlibat dalam pendistribusian buku paket. Namun dirinya memastikan 485 SD baik negri maupun swasta menerima buku paket dari Kemendikbud. “kami tidak tahu jumlah pastinya, karena itu langsung dari pusat,”ujarnya.
Dijelaskannya, sampai hari ini, pihaknya belum melakukan penarikan, pasalnya ada kendala dalam biaya. Namun, dia mengaku sudah melakukan komunikasi dengan provinsi terkait kesalahan pada buku ajar pendidikan karakter bangsa. "Kita sesuaikan dengan kemampuan, intinya buku itu ditarik oleh sekolah jangan sampai ke siswa," jelasnya.
Sementara itu, di hari yang sama DPRD memanggil Kepala Disdikpora dan jajarannya, sebagai upaya untuk menarik buku paket ajar yang salah ketik seperti buku pendidikan karakter bangsa.
Ketua DPRD, Ratno Pintoyo, menjelaskan harus ada penarikan dan inventarisir terhadap buku tersebut. "Jangan sampai ada yang tertinggal karena kesalahannya sudah sangat fundamental, dan segera harus ada penarikan," jelasnya.
Dijelaskannya terkait sudah beredarnya buku paket di sekolah-sekolah, pihaknya mengimbau agar anak didik tidak dibiarkan membaca buku tersebut. ”Kami berharap dinas pendidikan kooperatif untuk menangani maslah ini,” pungkasnya.
(Markus Yuwono/Sindoradio/kem)