JAKARTA – Wagiati (50), istri kedua dari pengusaha warung sate Pak Imin menjadi korban kekerasaan dalam rumah tangga oleh suaminya sendiri. Aksi ini dipicu permintaan korban agar diceraikan.
"Saya sudah enggak kuat hidup sama dia lagi, karena suka main, karena itu saya minta cerai," Kata Wagiati, kepada wartawan di Jalan Delima RT 16 RW 03, Perumnas Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (7/1/2012).
Wagiati menuturkan kekerasan yang dilakukan oleh suaminya, Parimin (50), mulai berlangsung sejak anak bungsunya masih di dalam kandungan. "Saat itu dia dengan tega mendorong saya yang sedang hamil, dari atas tangga ketika akan turun dilantai dasar," jelasnya.
Menurutnya tindakan yang dilakukan suaminya tersebut, bertujuan agar anak yang dikandungnya keguguran. "Untung saya tidak keguguran," terangnya.
Bukan itu saja, perlakuan kasar yang didapatkan dari ibu dua anak ini, terakhir terjadi ketika proses perceraian sedang berjalan. Di mana saat itu, empat pemuda yang diduga merupakan orang suruhan suaminya dengan tega menyeret dirinya keluar rumah hingga ke pinggir jalan. "Mereka menyeret saya keluar dari rumah (yang sudah dihuni 15 tahun), karena sudah berani mengajukan cerai," terang Ati.
Lebih jauh, ia menjelaskan dirinya mendapatkan sikap kasar dari Parimin sejak membuka usaha salon, karena usahanya maju Parimin menjadi cemburu dan sering memukuli serta pernah mencabuk dirinya. "Saya buka salon karena sejak kelahiran anak pertama, Elfi (17), tidak pernah diberikan nafkah, dan saya selama ini, bertahan sama dia karena anak-anak saja," ungkapnya.
Selain itu, karena tuntutan cerainya terhadap Parimin, rumah yang ditempatinya bersama kedua anaknya kemudian diambil alih Parimin, padahal rumah tersebut sudah ditempati sejak ia menikah dengan Parimin. "Saya cuma mau menuntut hak-hak saya, agar rumah itu bisa ditempati kedua anak saya," paparnya.
(ful)