JAKARTA - Pengamat Papua, Frans Ansanay menilai kedatangan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, Kapolri Jendral Timur Pradopo, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan Kepala Badan Intelijen Negara Letjen TNI Marciano Norman ke Papua tidak akan menjawab persoalan yang tengah terjadi di Papua.
"Kedatagan para jenderal dalam hal ini Menko Polhukam, Kapolri dan lain-lain sebetulnya tidak akan menjawab persoalan," ujar Frans kepada Okezone, Selasa (19/6/2012).
Kendati sangsi dengan kehadiran para jenderal tersebut, Frans menilai kedatangan mereka setidaknya agar mengetahui persis persoalan yang terjadi di bumi Cenderawasih tersebut.
"Minimal petinggi negara ini mengetahui persis situasi di daerah dengan mendengarkan langsung laporan masyarakat yang sebetulnya. Saya berharap pejabat tersebut berjumpa dengan tokoh-tokoh Papua langsung, supaya dapat mendengar," tuturnya.
Terlebih, lanjut Frans, terkait laporan dari Mabes Polri yang menyatakan bahwa penembakan kepada Ketua I Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Mako Tabuni karena korban berusaha melakukan perlawanan saat ingin ditangkap oleh aparat kepolisian. Frans menegaskan bahwa hal itu tidak benar. Kondisi di lapangan saat penembakan tak seperti yang dikatakan oleh pihak Mabes Polri. Kendati demikian, dia berharap dengan kehadiran para jenderal tersebut bisa mengeliminir pernyataan dari Mabes Polri tersebut.
Tak berhenti sampai disana, Frans menegaskan adanya rekayasa dalam kasus penembakan Tabuni. Dia menceritakan, saat akan ditembak Mako Tabuni tidak melakukan perlawanan, apalagi ingin merampas senjata api anggota polisi yang akan menangkapnya. Namun diakuinya, sebelum penembakan, Mako menggelar konfrensi pers dan mengumpulkan anggota KNPB untuk melakukan protes terhadap penangkap ketua mereka, Buchtar Tabuni. Penangkapan Buchtar merupakan konspirasi antara pihak kepolisian dan anggota DPRD Papua. Karena saat ditangkap, Buchtar memenuhi undangan dari anggota DPRD setempat.
Oleh karenanya dia minta agar Kapolri segera mencopot Kapolda Papua Irjen Pol Bigman L Tobing. Hal itu karena Bihman dianggap tak becus dalam menjaga keamanan di tanah Papua. Selain itu, Bigman juga tak mampu berkomunikasi naik dengan masyarakat Papua.
(Susi Fatimah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.