JAKARTA - Rencana Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Dewan Koordinasi Nasional Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa (DKN Garda Bangsa) untuk memutar film Sang Kiai serentak di bioskop seluruh Indonesia 30 Mei mendatang dituding sebagai ajang kampanye jelang Pemilu 2014.
Namun, tudingan tersebut dibantah. Sebab, pemutaran tersebut hanya untuk mensyiarkan perjuangan pendiri Nahdalatul Ulama(NU) KH Hasyim Asy’ari.
“Tidak ada motif politik jangka pendek seperti itu, kami hanya ingin mengawal supaya film sang Kiai sukses di pasaran,” kata Ketua Panitia Behind The Scene Film Sang Kiai Goes 2 Campus, Wahyu Andre Maryono dalam keterangannya, Jakarta, Jumat (24/5/2013).
Menurut Wahyu, PKB didirikan oleh NU, sedang Hasyim Asy’ary pendiri NU dan pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Hasyim, kata dia bukan hanya milik NU dan PKB tetapi milik bangsa Indonesia. Masalahnya, ada kecenderungan di masyarakat ingin melupakan peranan perjuangan Hasyim Asy’ary melawan penjajah dan menegakkan negara kesatuan RI.
“Kita ingin membuka mata publik, terutama generasi muda bhawa kiai sejak dulu sudah berpolitik, tapi berpolitik untuk kemerdekaan,”tandas Wahyu. Karena itu mereka mensosialisasikan film produksi RapiFilm ini ke mahasiswa dan pelajar Indonesia. “Film ini penting untuk generasi muda,” jelas dia.
Animo mahasiswa menghadiri Behind The Scene Sang Kiai di Kampus STIKOM cukup besar. Mereka mendengarkan kisah-kisah dibalik pembuatan film ini dari Rako Prijanto(sutradara), aktor Ikranegara (pemeran KH Hasyim Asyari), Agus Kuncoro Adi(pemeran KH Wahid Hasyim) dan Sekjen DKN Garda Bangsa Abdul Malik Haramain.
Film ini juga dibintangi Christine Hakim yang berperan sebagai Nyai Kapu, Abdul Malik yang juga anggota Komisi II DPR mengaku, Garda Bangsa memang sengaja mensosialisasikan film Sang Kiai, karena film ini diperlukan oleh siapa pun termasuk mahasiswa.
Dia menyatakan, film ini tidak saja menarik dan istimewa tetapi penting, pada saat Indonesia mengalami erosi kebangsaan. “Nilai-nilai kebangsaan kita semakin menurun dan tidak berkualitas,” kata dia.
Dia menambahkan, film ini tepat dari segi waktu dan berguna untuk bangsa kita terutama generasi muda karena begitu bermakna. Pada saat bangsa kita sedang dijajah model baru, lanjut dia, penjajahan kebudayaan, lahir Film Sang Kiai. Di film ini, KH Hasyim Asyary, seorang ulama besar memperlihatkan pengorbanannya pada saat pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan RI tanpa memperdulikan dirinya demi nasionalisme.
“Tokoh-tokoh NU berkontribusi besar bagi bangsa Indonesia, mereka semua pahlawan yang patut kita hargai,” pungkasnya.
(Misbahol Munir)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.