JAKARTA – Setelah sekian lama, akhirnya tiba realisasi dari program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Banyak pihak yang pro dan kontra terhadap hal ini, namun yang pasti dinantikan adalah makin banyak lapangan kerja yang terbuka, bukan hanya di Indonesia, tapi warga Indonesia dapat bekerja di negara lain yang tergabung dalam ASEAN.
Namun keuntungan ini terdapat celah yang cukup bisa dikatakan merugikan di Indonesia. Melalui ini orang-orang pintar atau disebut juga skill worker, mempunyai potensi meninggalkan Indonesia untuk bekerja di negara lain karena dianggap diberi gaji yang lebih besar. Gejala orang-orang pintar yang berpindah negara ini disebut dengan ‘Brain Drain’.
Di studi terbaru dikatakan bahwa di beberapa negara, fenomena ini sudah terjadi namun dengan masuknya MEA, kesempatan untuk Brain Drain semakin besar dan bisa menyebabkan perkembangan ekonomi yang terhambat, karena di negara berpotensial pekerjanya yang tersisa justru yang kurang dalam segi pendidikannya.
Ibrahim al Muattaqi dari ASEAN Studies pada talk show di Hotel Aryaduta mengatakan, ”Indonesia dinilai masih kurang dari segi SDM yang berpendidikan tinggi, Thailand sendiri sudah mempersiapkan pekerjanya yang akan bekerja di Indonesia untuk belajar bahasa, sehingga pekerja yang mempunyai kualitas pendidikan rendah akan kalah dalam persaingan.”
Di riset yang dilakukan pada 2007, 51 persen responden di Indonesia mengatakan ASEAN tidak membuat perbedaan dalam kehidupan mereka sehari-hari, dan hal ini menjadi indikator bahwa Indonesia mengalami kurangnya SDM yang berkualitas. Sedangkan orang-orang berkualitas atau berpendidikan tinggi lebih memilih untuk bekerja di luar negeri karena mereka selalu menganggap ‘lebih dihargai’ dari segi gaji, apalagi dengan Komunitas ASEAN, makin memudahkan perpindahan warga negara Indonesia ke negara lain.
(Hendra Mujiraharja)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.