Kala itu juga, lanjut Djarot, pemerintah melakukan operasi dengan membumihanguskan buku-buku terkait ajaran sang proklamator. Karena, PDIP dianggap identik dengan Soekarno.
"Buku-buku Soekarno dilakukan operasi karena PDIP diidentikkan meneruskan ideologi Soekarno. Gambar Soekarno dicopoti semua," imbuhnya.
Djarot mengingat bagaimana rekan perjuangannya sesama aktivis ditangkap dan disiksa oleh para tentara. Hal itu lantaran para aktivis berdagang kaus yang bergambar Sang Putra Fajar.
"Saat mahasiswa saya juga aktivis, bagaimana teman-teman saya juga ditangkap dan disiksa waktu itu di Kantor Kodim hanya gara-gara dia jualan kaos bergambar Soekarno. Di situ mereka dihajar," ingat Djarot.
Oleh karena itu, Djarot menjelaskan, PDIP bukan partai akta notaris. Di mana, partai besutan Megawati Soekarnoputri itu dalam prosesnya penuh dengan perjuangan. Bahkan, sambungnya, PDIP akan tetap berjaya meski tidak menjadi partai penguasa.
"Bagaimana suka duka seperti itu. Sehingga saya sampaikan bahwa PDI Perjuangan itu bukan partai akta notaris lho. Kalau mau jujur, coba mana Golkar dan PPP mulus-mulus saja kan? Yang bergejolak dan dihajar terus kan PDIP, tapi kita masih kuat. Kita tidak akan peduli di dalam kekuasaan kita masih oke, di luar juga PDIP sudah terbiasa," pungkasnya.
(Fiddy Anggriawan )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.