TAIPEI - Topan Meranti menghantam Taiwan dan memaksa ratusan orang dievakuasi. Roda perekonomian di Taiwan lumpuh, jalur transportasi baik darat, laut maupun udara ditutup, sekolah dan perkantoran pun diliburkan.
Meski dampak angin berkecepatan hingga 370 km per jam ini cukup masif, nyatanya Pemerintah Taiwan cukup terbiasa dalam menghadapi bencana topan. Kepulauan yang diklaim di bawah pemerintahan China ini memang sering menjadi sasaran topan kuat di Samudera Pasifik. Otoritas setempat memiliki catatan baik dalam menjaga dampak akibat topan selalu minimal. Demikian dilansir CNN, Rabu (14/9/2016).
Meski demikian, jika topan menghantam dataran utama, dampaknya cenderung lebih merusak. Pasalnya, semakin datar suatu daratan, kecenderungan terjadinya gelombang badai dan banjir pun semakin besar. Terlebih lagi jika topan menghantam wilayah padat penduduk, maka jumlah korban jiwa pun akan cukup banyak.
Inilah yang terjadi saat Topan Super Nepartak menghantam wilayah yang hampir sama dengan Topan Meranti. Akibat super topan Nepartak pada 8 Juli, setidaknya tiga orang tewas di Taiwan dan memutus aliran listrik. Dampak Nepartak lebih mematikan ketika terjangan angin menghantam dataran utama China.
Meski kekuatannya menurun menjadi badai tropis, Nepartak menyebabkan hujan lebat dengan intensitas tinggi hingga 254 mm dan menewaskan lebih dari 80 orang. Topan Meranti sendiri diperkirakan akan lebih kuat ketimbang Nepartak ketika menghantam dataran utama China dengan angin berkecepatan 210 km per jam.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.