SBY dan Pistol di Jidat (3)

SINDO, Jurnalis
Selasa 15 Januari 2008 11:40 WIB
Share :

Terlahir sebagai anak tunggal tak membuatnya manja. Dia mendapat didikan keras dari ayahnya yang seorang tentara. Namanya,yang sarat makna menjadi garis tangan kariernya.

Seorang wanita di desa Tremas, Arjosari, Kabupaten Pacitan-Jawa Timur, gelisah. Dia sedang hamil tua, menanti jabang bayi yang dikandungnya lahir. Siti Habibah, demikian nama ibu muda yang tinggal di lingkungan Pondok Pesantren Tremas itu harus berjuang antara hidup dan mati menanti kelahiran buah hatinya.

Sedih,di saat penuh harap dan penantian itu suaminya, Raden Soekotjo, tidak berada di sampingnya. Sebagai seorang bintara Tentara Nasional Indonesia (TNI), Soekotjo tengah bertugas di daerah lain. Meski begitu, perasaan Soekotjo juga gundah menanti kabar kelahiran bayi pertamanya.

Seusai adzan dhuhur, 9 September 1949, Habibah, putri salah satu pendiri Pondok Pesantren Tremas ini pun melahirkan seorang bayi lakilaki yang sehat. Mendapat kabar istrinya melahirkan, sontak Soekotjo segera ke Tremas.

Melihat anak yang dinantikannya telah lahir ke dunia,Soekotjo langsung bersujud syukur kepada Ilahi. Tak lama kemudian dia mencabut pistol dari pinggangnya dan meletakkannya di atas dahi sang bayi yang diberi nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Nama tersebut bukan tanpa makna. Dalam bahasa Jawa, Susilo berarti orang yang santun dan penuh kesusilaan. Sementara Bambang berarti ksatria.Yudho bermakna perang, sedangkan Yono sama dengan kemenangan. Susilo Bambang Yudhoyono, seorang yang santun,penuh kesusilaan,kesatria dan berhasil memenangi setiap peperangan.

Sebuah nama yang sarat makna. Boleh jadi, nama itu menjadi garis tangan Sus- begitu orangtuanya biasa menyapa-selanjutnya. Sus kecil tumbuh dan berkembang sebagai anak desa yang cerdas dan pandai bergaul. Posturnya kurus tinggi. Kulitnya yang kuning bersih, membedakannya dari teman- teman sebaya, yang umumnya berkulit legam terbakar terik matahari.

Sejak kecil, Sus-yang akhirnya menjadi anak tunggal pasangan Soekotjo dan Habibah ini-mendapat pelajaran hidup berharga dari kedua orangtuanya.Ayah selalu mengajarinya bagaimana bekerja keras dan disiplin.

Sementara ibu lebih menitikberatkan pada masalah keimanan dan ketakwaan. Ketika duduk di kelas tiga Sekolah Rakyat, tentara menyelenggarakan latihan perang di Desa Purwoasri,Kec Kebonagung. Sus dan sejumlah temannya pun menyaksikan aksi para serdadu dari kejauhan.

Peristiwa itu rupanya memberinya inspirasi untuk menjadi seorang tentara, mengikuti jejak ayahnya. Sus berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA pada akhir 1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, Sus tidak langsung masuk Akabri.

Dia pun sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November Surabaya (ITS). Pada 1970, Sus akhirnya masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung. Sus satu angkatan dengan almarhum Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto.

Semasa pendidikan, Sus yang mendapat julukan "jerapah", sangat menonjol.Terbukti, dia meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya dan terus mengabdi sebagai perwira TNI sepanjang 27 tahun. Sus meraih pangkat Jenderal TNI pada 2000. Selama berkarier di militer, serangkaian pendidikan dan pelatihan di dalam dan luar negeri dia lakoni.

Di Seskoad dia belajar,juga pernah menjadi dosen di sana, lalu belajar di Command and General Staff College,Amerika Serikat. Dalam tugas militer, dia menjadi komandan pasukan dan teritorial, perwira staf, pelatih dan dosen, baik di daerah operasi maupun markas besar.

Penugasan yang dia terima antara lain Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad, Panglima Kodam II Sriwijaya dan Kepala Staf Teritorial TNI. Setelah 27 tahun mengabdi di TNI,dia terpaksa pensiun lima tahun lebih cepat. Langkah itu dilakukan lantaran pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memintanya menjabat posisi Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben) pada 2000.

Tetapi dia meninggalkan posisinya sebagai Mentamben karena Gus Dur memintanya menjabat Menteri Koordinator Politik Sosial dan Keamanan (Menko Polsoskam). Di era pemerintahan Megawati Soekarnoputri, dia dipercaya memegang jabatan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) dalam Kabinet Gotong- Royong.

Namun, pada 11 Maret 2004, dia memilih mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Langkah ini membuatnya lebih leluasa menjalankan hak politik yang mengantarkannya ke kursi puncak kepemimpinan nasional.

Sus yang belakangan lebih dikenal sebagai SBY akhirnya menjadi Presiden RI ke-6 sekaligus presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Bersama Jusuf Kalla (wakil presiden), SBY terpilih dalam Pemilihan Presiden 2004 mengungguli Presiden Megawati Soekarnoputri dengan 60% suara pemilih.Pada 20 Oktober 2004 MPR melantiknya menjadi orang nomor satu di republik ini.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya