DENPASAR - Kawasan Kuta yang menjadi ciri khas pariwisata Bali dan dunia internasional, saat ini sangat memerlukan fasilitas penunjang kepariwisataan memadai dan berkualitas internasional.
Namun dengan pesatnya perkembangan, kini Kuta dihadapkan pada kondisi penunjang infrastruktur yang kurang memadai, bahkan cenderung berada pada ambang batas sebuah kelayakan kawasan wisata yang bertaraf internasional. Salah satunya adalah kondisi jalan.
Berdasarkan pantauan di sejumlah ruas jalan di kawasan Kuta, seperti Jalan Pantai Kuta dan Jalan Mataram, kini berada dalam kondisi memprihatinkan, seperti tidak rata dan bergelombang.
Menurut penuturan sejumlah warga di kawasan Kuta, sebagai penunjang laju gerak perekonomian masyarakat sekaligus sebagai daerah yang memiliki andil besar bagi pendapatan daerah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung sudah semestinya dapat mencermati dan peka terhadap kondisi jalan saat ini yang terkesan dikesampingkan dan dibiarkan.
Kondisi ini bagi mereka merupakan tanda tanya besar dan bertolak belakang dengan prestasi yang diraih Kabupaten Badung di bidang pembangunan berupa penghargaan Wahana Tata Nugraha yang diberikan oleh pemerintah pusat.
"Di Kuta ini kan daerah pariwisata. Sebagai daerah wisata, kalau jalannya rusak begini kan terus terang saja tidak bagus untuk menarik wisatawan. Ini beda dengan kondisi jalan di daerah pedesaan, seperti di Karangasem yang jauh lebih bagus. Seharusnya pemerintah memperhatikan keadaan ini," ujar Wayan Suardika, salah seorang warga Kuta, Selasa (26/02/2008).
Hal yang sama juga diungkapkan warga lain, Kadek Sutrisna, yang mengatakan, dengan kondisi ruas-ruas jalan di kawasan Kuta yang memprihatinkan, akan menggangu kelancaran arus lalu lintas, dan juga mengganggu area parkir yang ada.
Para warga di kawasan Kuta berpendapat, untuk membuat infrastruktur jalan yang kuat, Pemkab Badung sudah semestinya melakukan pengkajian dan mengambil langkah preventif terhadap kondisi jalan yang dinilai berbahaya dan rawan. Sehingga, kerusakan yang ditimbulkan tidak bertambah parah dan meluas, yang ujungnya berdampak bagi kepariwisataan Bali dan nasional.
(Nurfajri Budi Nugroho)