JEMBRANA - Ni Ketut Tayu (55) warga banjar Rangdu, desa Pohsanten, Mendoyo mendapatkan telephon santet hingga lemas. Akbibatnya, dia harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Negara, Kamis (15/5/2008).
Telephon santet diterima oleh Tayu pada pukul 24.00 Wita saat dia sedang tidur di rumahnya dan mendapatkan telepon sebanyak tiga kali. Namun, dia tidak mengangkatnya. Karena penasaran, setelah telephon berbunyi ketiga kalinya langsung diangkat dan dia langsung lemas. "Begitu telepon saya angkat, kepala saya pusing dan nyetrum ke tangan kanan saya, terus telepon saya lempar," ujar Tayu.
Menurut Tayu, sebelum menerima telephon itu, perempuan yang sering berjualan cokelat itu tidak pernah mengidap sakit apapun. Kondisi badannya sebelumnya juga segar bugar dan bekerja seperti biasa. "Saya tidak pernah sakit selama ini. Tapi semenjak dapat telepon itu badan jadi lemas," kata Tayu.
Sebelum dirujuk ke RSU Negara, Tayu mengatakan sempat dirujuk ke Puskesmas, dan rumah sakit Dharma Sentana, Negara. Namun, kedua rumah sakit itu  tidak bisa menangani. "Kata dokter, sudah terkena bagian syaraf. Tapi, sekarang sudah agak mendingan," ujar Tayu.
Anak korban telephon santet, Ni Komang Argani (20) mengatakan, telephon santet itu diangkat oleh ibunya karena penasaran berbunyi tiga kali. "Ibu saya menduga itu telepon dari saudara yang di Denpasar, karena terus menelphon," tandasnya.
Menurut Argani, dia sempat menghubungi nomer telepon yang menghubungi ibunya itu. Namun, yang menelephon itu mengaku bernama Iwan dari Mendoyo. "Setelah saya telepon itu pemilik nomer itu hanya ingin berkenalan, tapi kok aneh saat menerima telepon itu ibu saya langsung lemas seperti terkena setrum," ujar Argani.
Masalah SMS Santet juga merebak di Jembrana, sehingga membuat resah. Warga Baluk, Negara, Delo (60) misalnya. Dia mengaku mendapatkan SMS, santet. Namun, dia tidak lemas setelah mendapatkan SMS tersebut. "Saya tenang-tenang saja. Malah SMS itu saya sebarkan kepada orang lain," kata Delo.
Sementara itu Kasat Reskrim Polres Jembrana, AKP I Wayan Sinaryasa mengatakan, kasus mendapatkan SMS dan telepon santet itu belum dilaporkan kepada polisi. Karena SMS tersebut meresahkan masyarakat Jembrana, Sinaryasa mengharapkan masyarakat tidak resah.
(Fitra Iskandar)