TEHERAN - Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan baru terhadap "berbagai target" di Iran atas perintah Presiden Donald Trump. Iran pun membalas dengan melakukan serangan terhadap pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait serta dua kapal di Selat Hormuz.
Militer AS menyebutkan, serangan pada Rabu 10 Juni 2026 malam itu adalah "sebagai tanggapan terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan". Sementara media pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di Pulau Qeshm dan di kota Bandar Abbas dan Sirik di sepanjang Selat Hormuz, sebagaimana dilansir Aljazeera, Kamis (11/6/2026).
Ledakan juga menghantam kota Kargan di selatan, melukai setidaknya dua orang. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menuduh AS melakukan "pelanggaran berulang" terhadap gencatan senjata April mereka, dan mengatakan Selat Hormuz "ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut".
Pernyataan itu menyebutkan seluruh lalu lintas di jalur perairan vital tersebut, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial, akan terpengaruh, dan dengan tegas menolak klaim AS sebelumnya bahwa mereka telah membantu kapal-kapal melewati selat tersebut.
IRGC menambahkan “dua kapal tanker minyak yang mencoba melewati selat secara ilegal telah dihantam”. Mereka juga mengklaim serangan terhadap Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain dan Pangkalan Udara Ali Al Salem serta Pangkalan Udara Ahmad Al-Jaber di Kuwait.
Eskalasi ini terjadi sehari setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan balasan terkait jatuhnya helikopter Apache AS di Selat Hormuz. Kedua pilot tersebut kemudian diselamatkan di perairan tersebut.
Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa AS akan menyerang Iran "dengan sangat keras". “Kita lihat saja apa yang terjadi dengan kesepakatan itu. Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan. Tapi mereka terus mengulur waktu. Mereka terus memperlakukan kita seperti orang bodoh,” katanya di Gedung Putih.