KUPANG - Pemerintah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) setelah lima warga Desa Kalondama Barat, Kecamatan Pantar Barat Laut meninggal dunia dalam empat hari terakhir, akibat terserang penyakit diare. Korban tewas terdiri dari tiga perempuan dan dua orang laki-laki.
Pejabat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Alor Yulius Plaikol yang mengatakan, pihaknya telah mengirim tim emergency yang terdiri dari dua orang dokter dan sejumlah tenaga untuk melakukan penanganan agar KLB diare tidak meluas ke desa tetangga.
"Kami baru menerima lokasi KLB membutuhkan pelayaran sekitar enam jam dari Kalabahi, Ibukota Kabupaten Alor," ujarnya, Selasa (9/6/2009).
Dia mengatakan, sedikitnya 17 warga yang terdiri dari balita dan orang tua teridentifikasi terserang bakteri diare.
"Lima di antaranya meninggal dunia," lanjut Plaikol. Langkah daurat yang telah diambil tim medis yakni melakukan pengobatan massal kepada seluruh warga. "Yang sudah terserang diare, dirawat secara khusus," katanya.
Menurutnya, penyebab utama penyebaran wabah diare karena perilaku hidup masyarakat yang kurang memperhatikan pola hidup sehat. "Dari 94 rumah yang dihuni 117 kepala hanya 10 rumah yang memiliki jamban keluarga (WC). Warga lainnya lebih senang membuang hajat di hutan, pekarangan rumah atau di lokasi yang dianggap aman," kata Plaikol.
Selain itu, sebagian warga Desa kalondama Barat lebih senang mengonsumsi air mentah tanpa dimasak terlebih dahulu. "Tim medis yang diterjunkan ke lokasi telah memberikan penyuluhan kepada masyarakat setempat agar memperhatikan kebersihan makanan dan membangun WC di setiap rumah agar tidak membuang hajat di sembarangan tempat," ujarnya.
Sedikitnya 11 warga Alor meninggal dunia dalam enam bulan terakhir akibat diare.
(TB Ardi Januar)