Larang Balibo Five, LSF Berlebihan

Hariyanto Kurniawan, Jurnalis
Kamis 03 Desember 2009 07:02 WIB
Kelima jurnalis Australia yang tewas di Balibo, Timor Leste, 1975. (Foto: abc.net.au)
Share :

JAKARTA - Alasan Lembaga Sensor Film (LSF) yang melarang pemutaran film Balibo Five di Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009, sebagai "membuka luka lama" dianggap berlebihan oleh Aliansi Jurnalistik Independen.

AJI dalam keterangan pers yang diterima okezone, Kamis (3/12/2009), menyebutkan alasan pelarangan ini sangat politis. Karena diduga, Balibo Five dianggap mengungkap pelanggaran hak asasi manusia (HAM) oleh tentara Indonesia. Seperti pembantaian lima jurnalis asing di Balibo, Tiimor Leste, pada 1975.

"Pelarangan film tersebut terkesan menutup-nutupi keterlibatan sejumlah perwira Indonesia dalam pembantaian jurnalis itu," seperti tertulis dalam keterangan pers AJI.

Padahal pemutaran film ini penting untuk memberikan informasi kepada publik, mengenai peristiwa dari sudut pandang lain, selain dari yang disampaikan pemerintah Indonesia selama ini.

Selain itu pemutaran Balibo Five sangat berguna untuk mengingatkan kepada semua pihak, agar menghormati jurnalis yang tengah melakukan peliputan. Lainnya, juga menjadi peringatan bahwa pembunuhan terhadap kelima jurnalis itu, harus diusut tuntas, dan pelakunya harus diadili.

Keputusan LSF tersebut jelas sangat bertentangan dengan prinsip kebebasan berekspresi, berapresiasi, dan tidak menghormati hak masyarakat untuk mengetahui. Oleh karena itu AJI menuntut agar pelarangan film tersebut dicabut.

(Hariyanto Kurniawan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya